Home » » Setan Berwajah Bidadari - Katarsis 2 (By. Ponda Admiroza)

Setan Berwajah Bidadari - Katarsis 2 (By. Ponda Admiroza)

Written By AK Pro Chanel on Senin, 27 Februari 2017 | 04.13

Putih kertas ini, tak seputih mataku dalam penantian, penantian panjang, di sebatang pohon tumbang, di sebuah sumur tua, di tepi telaga gersang yang menunggu mata air mengalir, menghilir. Hingga kesepian terusir.
Sudah tanggal berapa hari ini? Perasaan... baru kemarin kau bersamaku. Ternyata setahun berlalu, sepi,,, masih saja membalut rindu. Dan sakali lagi aku tak tau, apakah satahun atau sewindu, hingga jemari gemulai bisa mencakar langit biru. Atau menunggu kelelawar-kelelawar hitam bergelantungan di bulan purnama kesembilan tahun ini.
Duhai ... rembulan .... lebih baik kau jatuh berkeping. lalu timpa sabatang pohon tumbang di sebuah sumur tua yang kering sejak berbad silam.... mh.... gila...
Yang masih terngiang ditelingaku ketika kau berkata: Aku akan selalu menjadi milikmu, selamanya...
Mhhh. . Gila...
Gitar ini kan ? yang kau jadikan sebagai saksi indahnya malam dalam peraduan sendu....
Dimana peraduan itu... berlalu... Dulu,,, kau tersipu,,, tapi kini kau penipu... ya...penipu...
Apa hanya karena setan itu...  hingga kau lupa, bahwa kau seorang bidadari,,, atau kau hanya setan berwajah Bidadari.... yang selalu mengganggu tiap malam indahku, menjelma dalam bunga tidurku.
Kau datang lalu pergi .... pergi saja... agar para malaikat tau kau pengkhianat...
Kau khianati semua rasa, kau khianati semua pinta, hingga luka tergores pada bekas luka yang kian dalam... dalam ... dalam kesendirian, aku masih terpaku, terbelenggu, dalam jeruji masa lalu..lalu.. lalu...kau berlalu.

Dentingan gitar ini yang menjadi saksi, indahnya nyanyian lugu mu, yang mengungkap kan hasrat cintamu, dentingan gitar ini pula yang menjadi saksi terpatrinya ikatan hati. Hingga ku tulis kan sebuah lagu dalam gubahan ku.
Kini, lagu itu hanya tinggal senandung pilu, yang tak mampu mengeluarkan suara-suara syahdu. Yang ada hanya senandung sendu, yang ada hanya senadung pilu..
Hanya satu pintaku,,, lupakan saja aku. Biarlah gitar ini pula yang menjadi saksi kesendirian ku. Melantunkan bait-bait pilu, barangkali, yang akan menemani ku dentingan dawai para sufi dalam munajat cinta, dan aliran air mata dalam telaga al-kautsar... tak henti air mata ini mengalir, semua karena perihnya rasa, sakitnya sukma, perihnya belaian fatamorgana. Mungkin aku yang terlalu larut dalam cinta, hingga lupa aku siapa.
Andai luka ku dapat kau rasa, tak mungkin kau tinggalkan aku, andai saja kau sedikit punya iba, tak mungkin kau pergi dengan meninggalkan sejuta luka. Kini biar kan aku menangis dalam semua harapan nan sirna, biarkan hati ini menjerit dalam kesunyian diri, biarkan suara hati ini parau meraung memanggil namamu.
Kacau..... hancur.....
Engkau yang berenang bermandikan emas, bertahta intan, mengepak kan sayap-sayap asmara, terbang bersama angin menuju mahligai bahagia,,, bahagia,,, bahagia di atas derita ini.
Lihat aku disini.. bangkai yang berjalan, tak tahu akan adat dan agama. Tak tentu arah dan tujuan.
Kacau.... hancur.... semua karena kau...kau... yang datang dalam nyata, pergi seperti mimpi, meninggalkan jejak tanpa suara.
Mmmhhh....entahlah.. entah sampai kapan aku harus begini?... berlalu dalam sepi, berjalan diatas duri, merintih dalam hati.
Engkau tak mungkin lagi ku miliki, tak mungkin kugapai lagi, tak mungkin lagi kembali.
harap ku, jalani hari – hari indah mu bersama dia yang kini mengisi relung hati mu.

0 komentar:

Posting Komentar