Home » » 10 Langgam Budi Bahasa (By. Irwanto Al-krienciehie)

10 Langgam Budi Bahasa (By. Irwanto Al-krienciehie)

Written By AK Pro Chanel on Minggu, 19 Februari 2017 | 05.05


           Julung julung menggali lembah, selewah takenyo palu, sulung aku mengarang mengantarkan sembah, sesat sepatah minta ampun beribu kali ampun. Minta maaf kepado Ninik Mamak, Depati, dan Penghulu.

            Serutuk di ateh pintu, senawan di kaki tanggo. Ayam bakuk agikan ragu, manokan aku bartok membilang, mengajun, mengarah, mengantarkan sembah yang sebanyak itu.

            Anak seluang anak seluing, anak seluang karek-karek. Kalu terbilang jangan nak memuji, idak terbilang jangan nak mengupek.

            Hilang mat lapek, mat ladin menggali tubo. Dulu aku segalo dapek, kini aku segalo lupo. Dulu aku bergelar Datuk, kini aku bergelar Depati Panduko Rajo. Dulu aku intang dibatuk, kini aku intang diselimo pulo.

            Anak ikan peri keno rambang, seiko melompat ke turuntun. Uhang bernik agikan jarang, manokan aku bartok membilang yang sebanyak itu.

            Kecik-kecik Sungai Landai, tariklah galah unduk-unduk. Aku belum cerdik pandai, mano yang salah mintak ditunjuk.

            Akar penang di ateh bukit, buah luluk jatuh ke lurah. Berilah aku batenang agak sedikit, mak aku duduk mengarang mengantarkan sembah. Kalu idak aku antarkan sembah, aku sudah diucapkan dan disayo oleh sepuhun sepangkalan Ninik Mamak, Depati, dan Penghulu.

Adopun curah kaji ngan nak kami para Depati Sakti Alam Kerinci dan kota Sungai Penuh sampaikan kepado masyarakat Sakti Alam Kerinci dan kota Sungai Penuh melalui para Ninik Mamak dan Penghulu untuk disampaikan kepado seluruh Anak Jantan, Anak Batino baserto kemenakan yang menjadi ajun-arah para Ninik Mamak dan Penghulu. Adopun intinyo adolah “Sepuluh Langgam Budi-Bahasa” masyarakat Sakti Alam Kerinci dan kota Sungai Penuh, yang baguno dari hidup sampai ka mati, dari lahir sampai kiamat, dan dari dunia sampai akhirat hendaknyo.

          Kata dalam adat mempunyai makna yang dalam dan hikmah yang sangat tinggi terutama bagi orang yang memahami kandungan kata itu sendiri. Masing-masing orang di dalam adat mempunyai sifat dan martabat tersendiri pada tiap kata yang dilahirkan dari ucapannya.

            Partamo: “Kato Rajo kato melimpah.” Maknanya adalah: Bahwa Rajo sebagai pemimpin tertinggi, semua tutur katanya mengandung makna yang dalam. Istilah adat kato rajo babuah emas. Artinya semua ucapan rajo melimpah untuk keselamatan rakyatnya.

            Kaduo: “Kato Mamak kato pusako.” Pemahamannya adalah: Mamak adalah orang yang dihormati dan disegani. Kata-kata seorang Mamak mempunyai makna yang dalam dan hikmah yang tinggi. Petuahnya didengarkan dan dipakai orang banyak. Petuah Mamak jika didengarkan akan membawa keselamatan dan kerukunan dalam keluarga dan masyarakat umum.

            Katigo:”Kato Penghulu kato menyelesaikan.” Maksudnya: Penghulu adalah mendamaikan orang yang berselisih dan menyelesaikan yang kusut. Supaya perselisihan dan permasalahan tidak berlarut-larut dan terkatung-katung, maka Penghulu turun tangan untuk menyelesaikannya.

            Kampat: :”Kato Alim kato hakikat.”Keteranganya adalah: Alim pandito suluh yang amat terang. Masyarakat sangat membutuhkan penerangan supaya tidak gelap gulita. Alim pandito memberi penyuluh dan penerangan dengan kata-kata yang jitu yang masuk ke relung-relung kalbu. Kato yang jitu artinya kata yang menembus sasaran. Jadi kata Alim kata hakikat tidak bertele-tele.

            Kalimo:”Kato Guru kato petuah.”Penjelasannya: Tugas Guru adalah mendidik, mengajar, membimbing, membina dan menunjuki kepada jalan yang benar.mengeluarkan manusia dari kejahiliyahan kepada jalan yang diliputi nur iman dan Islam serta nur ilmi. Guru adalah digugu dan ditiru, dicontoh dan diteladani, baik perkataan, perbuatan, maupun ketetapannya. Jadi kata-kata yang keluar dari ucapan Guru mengandung petuah.

            Kaenam:”Kato Pegawai kato menghubungkan.” Artinya: Tugas Pegawai adalah melaksanakan perintah dan menyampaikan pesan yang sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya (tupoksi). Tidak boleh menambah dan tidak boleh mengurangi. Karena dilebihi cencak dan dikurangi sia-sia. Maka kata Pegawai adalah kata menghubungkan.

            Katujuh:”Kato Hulubalang kato mendereh.” Sifat Hulubalang adalah gagah, berani dan ‘gedang tulang’ (kekar/maskulinisme). Kata-kata Hulubalang adalah pendek, jitu, tegas dan tepat memenuhi sasaran (singket, tapek, hangek dan indak lambek do!). Hulubalang pantang berkata bertele-tele dan tidak bertindak gegabah. Karena tugas Hulubalang adalah sebagai parit pagar negeri, yakni menjaga ketertiban, keamanan dan kenyamanan negeri, serta senantiasa menjunjung semangat disiplin yang tinggi. Jadi kata Hulubalang adalah kata mendereh.

            Kadelapan: “Kato Bapak kato pungaja.”  Karakter Bapak termasuk Ibu bagi anak-anak adalah memberikan pengajaran (pungaja). Setiap patah katanya adalah mengandung nasehat dan hikmah. Apabila fatwa Bapak dan Ibu dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, maka akan membawa keberuntungan, keselamatan dan kesejahteraan bagi anaknya. Dan apabila nasehat Bapak dan Ibu yang baik diremehkan maka akan membawa bencana bagi anaknya (keno mano/azab dan sensara).

            Kasembilan: “Kato uhang banyak kato bagalau.”  Rumor, desas-desus, maupun isu publik adalah kata yang bergalau (bagalau). Karena sulit ditarik konklusinya. Sebab setiap orang mempunyai pendapat dan pemikirannya masing-masing. Dan kadangkala setiap orang mengklem pendapat dan pemikirannya yang paling benar. Filosofinya seperti: kalau makan banyakrimah (sisa-sisa nasi/makanan) dan kalau mandi berkeruh air (tercemar air). Atau seperti menebang kayu akar, renggang ke situ dikait ke sini, gawe (kerja) tidak tahu masa suntuk (selesai) dan tidak tahu kapan sudah (finish). Maka itulah disebut kata orang banyak kata bergalau (tak jelas ujung dan pangkalnya alias asal bunyi).

            Kasepuluh:”Kato Batino kato merendah.” Kultur perempuan (Batino) dibentuk dengan pameo: bapiuk gdang batungku jarang, munantik mendah(tamu) datang petang, melepeh mendah balik (pergi) pagi. Ditantik  (ditunggu)dengan hati suci dan muko yang jernih, dan dilepeh dengan hati suci dan muko yang amat jernih (jernih plus). Sebagaimana fatwa adat mentitahkan:“Ayam putih kinantan suci, pandai bakukuk baleh mumbaleh. Mendah datang ditantik dengan hati yang suci, mendah dilepeh dengan muko yang jernih.”  Mengingat harkat perempuan juga sebagai ibu rumah tangga bagi suami dan anak-anaknya yang begitu tinggi tupoksinya. Maka perempuan tidak boleh berkata lembek (loyo). Maka intinya adalah kata perempuan kata merendah, patuh dan taat kepada suaminya, selama suaminya taat dan patuh kepada Allah (Alquran) dan Rasul-Nya (Sunnah).

0 komentar:

Posting Komentar