Home » » Surat Cinta Sang Pujangga (Sambungan Part 2) By. Andy Alkrienciehie

Surat Cinta Sang Pujangga (Sambungan Part 2) By. Andy Alkrienciehie

Written By AK Pro Chanel on Selasa, 17 Januari 2017 | 06.57

Dinda!
Ada sedikit keyakinan dengan segala kepekaan hati, bahwa dikau mencintaiku, bahwa dikau mau menjadi pelepas dahaga kegersangan hidupku. Tapi setelah kembali kupikir-pikir bahwa itu memang sebuah kata hati tapi ketidak keyakinanku; seorang penyair pernah berkata "dikau terlalu suci untukku". Seorang pecinta berpikir "sungguh dikau memang tak pantas untukku karena dikau bak tiara dikedalaman samudra, bak tajung melingkar gunung, bak bunga menghias syurga sedangkan daku hanya kerikil yang sering terkucil hanya puisi yang tiada arti".
Yah……Entahlah, entah kapan kan usai perjalanan cinta yang tak sampai, bongkahan rindu yang kian membeku, rintihan qalbu yang masih saja menunggu, dikau hiasi diri dengan iman, dikau sucikan diri dengan keikhlasan, dikau kokohkan hati dengan Islam, itu yang membuat daku semakin, tak berani menghampirimu… dinda.. daku bingung, apa yang harus kuldakukan…?
O....iya…! daku baru teringat, bahwa kalau cinta bukan kata akal, bukan kata nafsu, tapi cinta adalah kata yang terlahir dari hati, kata yang terungkap lewat tatapan mata, karena bahasa mata tak bisa berdusta, dan bila dikau memang mencintai daku, daku juga masih tak berani.
Dinda!
Kutersentak dalam lamunan, bahwa ku juga baru tersadar ternyata bumi juga tak di gantungkan pada bintang-bintang dan juga tak terpaut pada matahari, dia bergerak pada garis edar, sehingga getaran gempapun tak bisa terkendali karena memang bumi terletak pada orbitnya sendiri, begitu juga daku yang tak ada kendali tak ada hubungan apapun dengan dikau, dikau tak pedulikan daku sendiri disini, berlalu dalam sepi, tak ada satu bintang yang peduli.
Begitu pula garis edar bulan, yang berputar mengitari bumi, dan sejak dua jam yang lalu, bulan Sya’ban telah berlalu, dengan demikian kini adalah awal Ramadhan, dia masih bersembunyi di dasar samudera, bahkan di tutupi awan, hingga hilalpun tak menampakkan dirinya, begitu pula dikau yang bersmbunyi dariku, dikau tutupi diri dengan Kiswah, dikau biarkan daku dalam kelam, tanpa ada cahaya yang datang tuk terangi. Tapi janji matahari pasti adanya kecuali jika kiamat menjelang.
Dinda!
Musim berganti, bulan bertukar, hari-hari terlewati, namun bayanganmu tak jua pergi, kepastian darimu masih jua kunanti. Walaupun bumi harus bergoncang dengan dahsyatnya, tapi semakin bergoncang bumi ini, semakin bergolak pula rasa rindu di qalbu. Malah lebih dahsyat lagi di banding getaran bumi yang menampakkan kebesaran Ilahi.
Sungguh Suatu kebesaran Sang Maha Cinta Sejati jika bumi ini di goncang dengan segoncang-goncangnya, namun lebih berarti lagi kebesaran Sang Pecinta Agung yang telah memberikan getaran pada hati ini. Wajilat qulubuhum (dan menggetarkan hati mereka). Sekali lagi, dinda jangan dianggap ini adalah nazam rayuan cinta tapi daku hanya berkata apa adanya.
Dinda!
Jika ada yang berkata; “daku mencintaimu”, maka perlu dinda tanyakan lagi kepada kata hati dinda, benarkah semua itu? Tapi kata cinta dihati ini tak perlu dinda tanyakan lagi, walaupun daku harus menderita demi cinta itu, maka itulah kebahagiaan ku yang sebenarnya, dan jika memang ku harus mati demi cinta itu, maka kuyakin itulah yang dimaksud oleh Sang Pecinta Sejati kalau cinta ini lah yang merupakan fitrah dari-Nya, dan tetap saja cinta kepada-Nya adalah cinta yang tertinggi.
Terakhir; walau bagaimanapun kuungkapkan kata-kata cinta, biar bagaimanapun daku ikrarkan rasa hati ini tapi yang pasti jawabannya hanya ada pada kata hatimu, dan yang jelas, jika dikau kata kan sayang padaku, namun keraguanku yang masih bermain dibenakku, kuharap dikau cintai daku seadanya, bukan rasa iba, bukan karena terpaksa, bukan pula karena daku terlalu banyak mengungkapkan kata cinta, tapi, kata hati itulah yang sebanarnya. Qulil Haq walau kana murra, katakan yang sebenarnya walau pahit sekalipun. Kan kuterima dengan lapang dada. Namun yang pasti, semakin dalam rasa cinta semakin ikhlas menerima seadanya, semakin gebu rindu di qalbu, semakin sabar dalam menunggu. Kutunggu dikau walau harus di padang mahsyar.
***

0 komentar:

Posting Komentar