Home » » Surat Cinta Sang Pujangga (Part 2) By. Andy Alkrienciehie

Surat Cinta Sang Pujangga (Part 2) By. Andy Alkrienciehie

Written By AK Pro Chanel on Senin, 30 Januari 2017 | 01.14

Meniti Pelangi Mengejar Mimpi

Kala hujan tak ingin pergi, gema alam bernyanyi di sukmaku, dalam sketsa hati yang kering bak kehuasan, kala telaga tak lagi dialiri air, dermaga yang tlah lama tak di kunjungi, mimpi-mimpi berlalu bagai rembulan merintih rindu, bagai gemintang berkedip layu. Kuhiasi segala kepiluan dengan permata yang retak dalam kesenduan. Kuhiasi dengan kemilau serpihan kaca yang berserak di tengah gurun yang tandus. Kubingkaikan dengan daun-daun kering yang berjatuhan diterpa kemarau. Kugereskan warna-warna alam yang menangis disudut malam, lalu kubawa berlari mengejar bayang yang ku tak tau dimana kan berakhir
***

Buat Dikau yang masih kusayang, di  kepingan jiwdaku yang pernah luka. Kali yang kedua ku jumpai dikau lewat Surat cinta ini, dan kembali daku mendo’akan dikau masih ditaman cinta dambaan sufi, begitu pula hendaknya keluargamu. Amin.
Taman yang membuat daku iri dengan dikau, begitu lengkap yang dikau miliki, keanggunan yang membuai lamunan, keramahan yang membawa keteduhan,tatapan yang membuatku sungkan, sungkan tuk kudekati,  kemanjaan yang sedikit keibuan, dan s’moga saja dikau tidak menganggap ini sebagai rayuan.
Pernah ku katakan hasrat hati hendak meniti, meniti pelangi menggapai mimpi, tapi mimpi-mimpi itu kini semakin membayangi tidurku, semakin menghantui setiap hayalku. Namun kini seolah jiwdaku bertarung dengan hasrat hati, terkadang di jiwa terlintas kata pasrah dengan keadaanku yang serba kekurangan, namun hatiku berkata; bahwa dikau yang bisa melengkapi kekurangan itu.
Dinda!
Gerimis yang mengemis, pada kabut hitam yang akan menjadi hujan, meminta gurindam dalam lagu yang berkepanjangan, senandung kepasrahan yang mengusik keteduhan, di terpaan sepi dawai musafir yang diperjalanan bak kehausan merindui setitik embun yang memberi kesejukan, namun fatamorgana yang ada disetiap perjalanan, hanya bayangan indah yang tiada berkesudahan.
Diperjalanan panjang, daku masih meminta dikau ‘tuk akhiri perjalanan ini. Selama ini daku bebas menempuh jalan yang tak berkesudahan, sungguh sangat kuharapkan dikau kurung daku dalam taman kerinduan ini, biarlah langkahku sampai disini, kurung daku diruang matamu, ikat daku dengan tali cintamu, akhiri perjalanan ku dengan sebuah telaga, telaga yang membuat daku merasa nyaman, telaga yang membuat daku ‘tak ingin pergi.
Hajarul Aswad, tak terletak diatas bumi, tak digantung pada langit tapi dia terkatung tanpa ada kepastian. Digantung tak bertali. Lembar Kiswah pembungkus Ka’bah dengan segala keindahan kalimat yang tertulis, tak ada yang barani membawa dia pergi, tak ada yang berani melepaskan tirai itu, itu yang sebenarnya yang ku damba darimu.- BERSAMBUNG.....

0 komentar:

Posting Komentar