Home » » Surat Cinta Sang Pujangga (Part 1) By. Andy Alkrienciehie

Surat Cinta Sang Pujangga (Part 1) By. Andy Alkrienciehie

Written By AK Pro Chanel on Selasa, 17 Januari 2017 | 06.50

SAMUDERA CINTA

Ingin kupetik kuntum kasturi, semoga saja tak terlalu mahal untuk kupersembahkan buatmu, yang kuragu bukan harga, tapi adakah dikaukan terima? Terserak kaca  terhempas,  terinjak kaki berdarah, itu belum seberapa. Terbuang kembang kau lepas berpaling wajah tak ramah, itulah luka yang paling dalam. Tak kupetik hasrat di qalbu, nak kupetik hati ragu. Bukan hanya sekali ronta, bahkan sejuta.
***

Buat yang asa karna cinta, buat yang gebu karena rindu, buat yang sepi karena sendiri, buat yang hilang karena malang, buat dikau yang t’lah lama dalam hayalku. Padamu suara hati ini kupersembahkan, padamu bisikan jiwa ini kuperuntukkan.
Dinda!
Mengawali jumpa kita walau hanya lewat goresan-goresan tinta ini, daku mendo’akan  dikau selalu dalam belaian kasih mesra Sang Pecinta Sejati, Dialah Allah yang Maha Mencintai, yang tak pernah berujung cinta-Nya, yang kasihnya takkan hilang ditelan masa, dan semoga saja rasa cinta itu juga masih melekat pada kita sebagai insan yang diberikan rasa sayang, atau setidaknya selaku manusia biasa masih memiliki rasa cinta walaupun hanya sisa-sisa.
Adam dan Hawa saling mencari pada sekian masa, Qais dan Laila terkubur dalam rasa cinta, Romeo dan Juliet pergi atas nama cinta. Kata sang aktifis legendaries, Soe Hok Gie; “Ada orang yang menghabiskan waktunya untuk berziarah ke mekah, adapula orang yang menghabiskan waktunya untuk berjudi di Miraza tapi aku ingin menghabiskan waktuku untuk selalu disampingmu sayangku!” Yang kusalut adalah orang yang rela menghabiskan waktunya untuk selalu disamping kekasihnya, yang menjadi pertanyaanku; Daku kan mencari siapa? Bersama cinta siapa aku akan terkubur? Atas nama cinta siapa daku kan pergi? Kepada siapa kesetiaan ini kan kupersembahkan? Dan yang terpenting, di sisi siapa  daku akan menghabiskan waktuku?
Mungkin daku angin haluan yang selalu berlawanan arah kapal, atau daku cahaya remang yang tak sanggup tuk menerangi kegelapan, atau memang temaram senja yang hanya menunggu malam?

Manusia pertama tercipta dari diri yang satu, maka merekapun bersatu, begitu pula keturunan nya. Seperti telah dijelaskan oleh sang pecinta sejati dalam surat cinta-Nya: “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya. Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS. An-nisa; 1). BERSAMBUNG...

0 komentar:

Posting Komentar