Home » » Surat Cinta Sang Pujangg (Sambungan Part 1) By. Andy Alkrienciehie

Surat Cinta Sang Pujangg (Sambungan Part 1) By. Andy Alkrienciehie

Written By AK Pro Chanel on Selasa, 17 Januari 2017 | 06.52

Tak lengkap rasanya jika belum mampu untuk menemukan bagian diri yang belum diketahui keberadaannya, hingga kini tak ada kicauan burung, tak ada angin berembus, tak ada hujan, tak ada panas, tak ada air mengalir, tak ada batu berukir hanya sepi membalut diri. Haruskah hujan menghantam? Haruskah awan bergumpal? Haruskah duri kugenggam? Haruskah hati membeku? Dan masih seribu tanya menunggu.
Permata yang hilang ditelan debu mayapada, putri Nirmala yang menunggu di Mahligai cinta. Siapa? Siapa? Putri Nirmalaku? dimana permataku? Bukit berbunga berhias rona, walau tinggi pasti kan kugapai jua. Tapi yang belum kumengerti; dimana bukit berbunga itu, tempat bermainnya para pecinta, yang berpuisi dengan syair kasih mesra, yang menyanyi dengan senandung asmara?
Kukunjungi setiap pusara yang ditumbuhi kamboja bahkan inggu, tapi Permataku juga tiada, kuziarahi makam tua yang hanya tinggal nisan, namun putri nirmalaku juga tiada, bahkan di setiap yang kutemui daku bertanya. Namun sayang semua mereka tak tahu apa-apa, mereka tak tahu tentang hatiku yang t’lah lama beku, mereka tak tahu tentang jiwaku yang t’lah lama hampa, mereka juga tak tahu diriku yang gersang dalam kemarau yang berkepanjangan.
Hingga kini pagi pergi tanpa pesan, tak jua kesan, siang hilang tanpa bayang pun jua terang, petang berlalu tanpa syahdu tapi hanya rindu, kerinduan yang tak pasti, siapa yang dirindui?
Senja pun terlewatkan hanya untuk menanti yang tak pasti menunggu yang tak tentu. Istilah Sutardji CB; “Hendak kugapai tangan tak sampai, hendak ku bayangkan angan tak sampai, hendak kuimpikan waktu tak sampai dan hendak kulupakan hati tak sampai”. Dan kini malam telah membayang, mungkinkah malamku kan berhias gemintang?
Mungkinkah malamku kan ditemani cahaya rembulan? Mungkinkah malamku kan dipenuhi mimpi-mimpi indah di  taman Nirwana? Atau malamku akan ditutupi kabut tebal? Dan di guyuri hujan dalam kegelapan?
Ibrahim yakin Tuhan ada, maka dia terus mencari dan terus mencarinya, malaikat-malaikat yakin Tuhanpun ada, maka mereka selalu setia dan menghamba pada-Nya. Begitu pula denganku, daku yakin permataku pasti ada.
Kini daku berkeputusan beku hati tak berarti mati, karena cinta akan pasti setia, masa lalu tidaklah nyata, karena dunia masih memberi asa, semua itu hanya baru pelabuhan pertama, pada purnama kesembilan rindu kan mengamit jua, di samudera cinta, pantai masih menanti ombak yang menepi, di mega senja, lembayung pasti tampakkan cahayanya.
Tapi daku yakin malam kan hadirkan rembulan bersama seribu gemintang, setidaknya ada kejora yang berkedip di malam yang kian kelam dan mungkinkah  fajar esok akan menggantikan hari-hariku yang telah pergi?
Untuk meneguhkan keyakinanku pada permata yang hendak kupuja, sungguh aku berharap dikau bisa menjadi ”Permataku”, karena keyakinanku dikaulah Permataku.
Ini adalah bagian dari suara hati, dan inipun adalah bagian dari keyakinanku; Dikau permataku, dikau putri nirmalaku, mata hari hidupku, mata air perjalananku, mata hati langkahku, karena daku masih melangkah dalam kegelapan, asaku memang dikau dambaku.
Dinda!
Jangan biarkan keyakinanku hilang, usah biarkan suara hatiku bisu tapi jawablah dengan rasa cinta seadanya, bukan dengan rasa iba tak pula karena terpaksa dan jika memang dikau merasa dikau bukanlah permataku, biarkan cinta ini pergi. Tapi setidaknya tengok, lirik atau tersenyumlah. Sebagai tanda dikau pernah mengenalku, walaupun berat untuk melangkahkan kakiku karena keyakinan ku telah terpaut padamu dan namamupun telah terukir di hati. Apalagi wajahmu, telah terkurung di ruang mataku.
Jika dikau benar permataku, semaikan rasa ini di ladang-ladang persemaian cinta di bukit yang berbunga, yang tercipta dalam kasih sayang yang tak akan sirna.
Dinda!
Dunia ini memang satu, tapi daku tau kita pasti berbeda dalam memandang dunia ini, mungkin dikau memandang dunia ini dari sisi kanan, sedang kan daku melihatnya dari dalam dunia ini sendiri, maka kita sering berbeda dalam menilai dunia, wajar terkadang kita berbeda dalam memandang cinta.
Kadang daku merasa daku sudah penuh dengan lumpur dunia ini, sedangkan dikau masih suci dan bersih. Seandainya jika dikau berkata, dikau tak pantas disisiku, maka daku akan merasa lebih tak pantas untuk berada disisimu. Karna kutau jiwaku yang sudah penuh dengan luka yang telah hitam seiring pekatnya malam.
Dinda!
Jika ada belibis putih yang terjatuh kedalam lumpur hitam, mungkin dikau hanya mendengar kabarnya saja, tapi daku melihatnya dengan mataku sendiri. Bahkan mungkin daku belibis putih itu yang terjatuh kedalam lumpur hitam yang penuh dengan bau amis bekas darah rembulan malam yang terluka karena disakiti matahari.
Kuatnya seorang lelaki tidak terlepas dari siapa yang mendampinginya. Dan disaat seorang lelaki tidak mampu lagi berbuat apa-apa maka wanitalah yang mampu untuk melanjutkan sebuah perjuangan itu dan daku yakin dikau lebih mampu untuk semua itu.
Yah… Telah cukup jauh daku melangkah, telah cukup langcang daku berkata, telah cukup banyak daku berharap…hingga mungkin banyak hal yang kan terpikir tentang diriku... Yang tak tahu diri, tak tahu arti diri, tak tahu menebak hati, tak tahu orang benci, barangkali…
Hasrat hati hendak meniti, meniti pelangi menggapai mimpi, gebu Qalbu menggamit rindu, rindu beku hanya padamu. Namun…jiwa kadang meronta, nafsu kadang meragu, langkah sering tersalah, kata menjebak dusta, mulut menjemput maut. Tapi… niat tak pernah khianat.
Lewat kabut kesalahan ku renggut, lewat awan nafsu ku lawan, lewat cahaya asa ku pinta,  lewat embun pagi… ku titip segala kerendahan hati, memohon kema’afan salahnya diri.
Wassalam

0 komentar:

Posting Komentar