Home » » CERPEN Menarik, EMAK (Kisah Nyata)

CERPEN Menarik, EMAK (Kisah Nyata)

Written By Bang Sarjoni on Selasa, 04 Agustus 2015 | 00.58




Emak, bagaimana hati tak merasa iba melihat teman-teman serba ada. Tak sanggup lagi melihat dunia ini, di mana aku duduk di sana terbayang wajah Emak dengan air mata berlinang. Mungkin sudah nasib Anak Emak dengan malang, siang malam Anak Emak menanggung malu. Kadang makan kadang puasa. Emak sudah nasib Anak Emak sengsara..
***
Itulah sepucuk surat yang aku temui di saat aku berhenti makan di sebuah Rumah Makan Minang beberapa minggu lalu. Aku mengira bahwa surat itu milik seorang anak yang telah ditinggalkan Emaknya atau mungkin ada orang tua yang tega meninggalkannya dan membiarkannya dalam kesendirian. Dan juga bisa dikatakan anak itu lupa atau suratnya terjatuh saat berhenti makan di rumah makan yang semua orang tahu dengan selera rasanya ini, dan mungkin kini dia sedang perjalanan mencari  Emaknya entah ke mana. Anganku setelah melihat surat itu.
 Aku sempat heran melihat surat ini di atas meja restauran itu, namun nuraniku tak memberanikan mengambilnya. Sesekali aku berbisik kepada teman sepergianku,
Coba kamu lihat  surat itu di sebelah meja kita?  Tanyaku.
 ah, tidak usah dihiraukan mungkin itu kertas milik rumah makan ini? Balasnya singkat. Ah tidak mungkin kertas itu milik rumah makan ini! Ungkapanku dalam hati.
Karyawan rumah melintas dengan lenggak-lenggoknya yang membuat mata tak bisa berkedip sambil menadahkan tangan dan berkata permisi Pak numpang lewat, begitu sopannya karyawan rumah makan ini.
Aku berniat ingin menanyakan tentang surat itu kepada salah satu karyawan tapi aku tak berani sama sekali, karena rumah makan ini selain terkenal dengan kelezatan makananya juga terkenal dengan ramah, sopan dan santun. Ya, sudah! Aku lupakan saja tentang surat itu.
 Kami pun berlanjut makan dengan sajian yang menggoda sekali. Aku dan temanku yang bernama Sulaiman makan dengan lahapnya.
 Beberapa menit kemudian kami pun selesai makan dengan rasa kenyang dan ditemani sebatang rokok. Sesekali aku melirik ke arah meja samping dan ternyata surat itu masih juga berada di sana. Aku heran dan bertanya lagi kepada sulaiman dengan pertanyaan yang sama. Lagi-lagi dia membalas dengan gurauan.
Ketika Aku ingin mengisap rokok ternyata korek api ketinggalan dalam tas lalu aku meminjam korek api ke kasir rumah makan ini dan sempat aku tanyakan tentang surat ini, “Permisi Pak, o ya surat siapa yang terletak di meja sebelah meja kami Pak? Dia menjawab dengan gelengan kepala.
Melihat jawabannya Pak kasir tanpa suara hanya menggelengkan kepala, ya sudah aku langsung membayar jumlah makanan kami sebesar Rp 25.000. Padahal sebelumnya aku berniat hanya ingin mengetahui surat itu sambil iseng meminjam korek api, tapi karena melihat jawaban yang membatin aku terasa iba pula dan langsung membayar saja.
***
Aku dan sulaiman akan segera melanjutnya perjalanan kami yang tinggal hanya beberapa KM lagi akan sampai ke tujuan. Diam-diam surat itu aku ambil dan aku bawa untuk pergi.
Ketika kami ingin menaiki mobil, aku melihat seorang sopir travel yang baru sudah shalat ashar disamping rumah makan ini. Aku menyapanya dan menanyakan tentang surat ini kepadanya “Permisi Pak, mungkin bapak tahu siapa yang punya surat ini atau di antara penumpang bapak ada yang ketinggalan surat di meja makan dalam Pak?  Dia menjawab tidak. Padahal dia belum menanyakan kepada penumpangnya di dalam mobil. Entah sopir dari mana yang bicara agak sedikit lancang itu. Namun kami ambil positifnya saja mungkin bapak tersebut tergesa-gesa karena jam sudah pukul 04:30 WIB. Sudahlah! Bawa saja surat ini! Kesimpulan temanku bernama Sulaiman.
***
“Emak, andai kini Emak masih ada, mungkin tak lagi Anak Emak sia-sia”. Itulah sebait lirik lanjutan yang  kubaca dalam sepucuk surat itu.
Aku terus membaca dengan tetesan air mata sedu. Aku beranggapan bahwa masih ada seorang anak mempunyai nasib malang mencari Emaknya yang tak kunjung ketemu. Sementara aku masih mempunyai keluarga yang lengkap: Ayah, Bunda, kakak, adik dan tante. Aku meneruskan  membaca surat itu dengan menahan isak tangis.
Aku terus membaca hingga pada bait terakhir, “Ya tuhan siapan Emakku, di manapun keberadaannya jangan pernah kau sia-siakan hidupnya. Kemudian di sudut kanan bawah terlihat fotonya sendiri dengan mEmakai topi, lesung pipit sebelah kanan, berkulit putih. Betapa lugunya anak itu. diperkirakan anak itu sebesar adikku berumur lima tahun.
Aku pun beranggapan mungkin Emaknya tak menganggapnya lagi sebagai anak. Dan mungkin Emaknya tak bertanggung jawab setelah melahirkannya. Betapa malangnya anak itu mencari Emak yang tak kunjung ketemu dan tak pernah kenal dengan wajah Emak kandungnya sendiri.
 Ketika surat itu sudah selesai Aku baca dengan hati membatin kemudian  Aku sempatkan diri  menceritakan cerita itu kepada Emakku dengan mata merah. Emak pun mengusik kepalaku dengan belaian kasih sayang. “sudahlah Nak, berhentilah menangis sama-sama kita doakan yang punya surat ini bertemu dengan Emak kandungnya.”
Ketika melihat surat itu dibasahi dengan air mataku, aku mulai tergunggah kembali untuk menuliskan kembali dan kisahku dalam selembar kertas buram. Kata orang menulis itu perlu bakat tapi menurutku tidak sama sekali. Menulis itu tergantung kerajinan kita dalam menulis. Jika kita rajin maka tulisan yang kita tulis akan enak dibaca setiap orang.
Aku susun kata demi kata, kalimat demi kalimat hingga menjadi sebuah cerita tentang kisah perjuangan seoran anak mencariIEmaknya.  dan disunting dengan editor yang handal yang bernama Abdul yaitu Ayahku sendiri kemudian aku ketik kembali dalam rangkaain teknologi komputer. Cerita itu aku beri judul “Selembar Surat Untuk Emak.” Yang kisahnya menceritakan seorang anak malang yang sedang mencari Emaknya. Doaku semoga anak itu cepat bertemu dengan Emak kandungnya. Amin ya rabbal Alamin. 
Post: Repa Mustika

0 komentar:

Posting Komentar