Home » » Pro-kontra MANUSIA ULAR PENGHUNI HUTAN (Kerinci)

Pro-kontra MANUSIA ULAR PENGHUNI HUTAN (Kerinci)

Written By Bang Sarjoni on Sabtu, 13 Desember 2014 | 08.44

SULUK PEDUSUNAN 244#
BAHASA CERMIN BANGSA
(By : Irwanto Alkrienciehie)

Pro-kontra setelah tayangnya FTV MANUSIA ULAR PENGHUNI HUTAN (Kerinci); merupakan instrospeksi bagi masyarakat Kerinci, karena dialek yang digunakan belum sempurna dengan kekhasan bahasa Kerinci.

Kalau ditilik ulang ada beberapa kalimat dalam dialek yang perlu disempurnakan sesuai dengan logat Kerinci seperti: Uni, kau sajo, nyo indak kambali-kambali, Bundo, hanyo sajo, salamanyo, samo kau, tinggal disiko, janji sajo, ndak ado, Uda, ndak biso, dll.

Hamba harap maklum, karena para kru FTV Manusia Ular Penghuni Hutan hanya tinggal beberapa minggu di renah Sakti Alam Kerinci, wajar saja adaptasi bahasa belum maksimak. Kritik masyarakat Kerinci juga wajar karena mereka ingin ada harnomisasi antara alam Kerinci dengan bahasa yang digunakan, sehingga tidak berjarak antara alam Kerinci dengan bahasa yang digunakan.
Pada tahun 1998 saat panasnya reformasi, hamba pernah bertemu dengan peneliti wanita asal Jerman, beliau didampingi bapak Sutan Kari waktu itu, hamba menanyakan, "Apa yang menarik dengan bahasa Kerinci? Sehingga Ibu mau jauh-jauh meneliti dari Jerman ke daerah Kerinci di tengah Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS)?" Sambil tersenyum ibu tersebut menjawab dengan bahasa Indonesia,"Menurut saya, bahasa etnik Kerinci sangat khas. Karena beda dusun (desa) bahasa dan logat serta dialeknya juga berbeda. Bukan itu saja, pemungkiman yang berbatasan dengan sungai pun beda bahasa. Di sinilah letak keunikan bahasa Kerinci dengan bahasa daerah-daerah yang lainnya."
Dari konteks di atas, seharusnya kita warga Kerinci tidak malu berbahasa Kerinci; sebagaimana orang Minang bangga dengan bahasa Minang, orang Batak bangga dengan bahasa Batak, orang Sunda bangga dengan bahasa Sunda, orang Jawa bangga dengan bahasa Jawa, dll. Maka, orang Kerinci harus bangga dengan bahasa Kerinci.
Hamba sangat apresiatif terhadap seniman Kerinci yang hampir setiap malam dapat melahirkan lagu-lagu daerah dan naskah lawak Kerinci. Karena lewat lagu-lagu daerah Kerinci dan Komedi Kerinci, maka bahasa Kerinci tetap eksis. Selain itu, grup-grup ranggu dan rentak kudo juga berjasa mempertahankan bahasa kerinci, termasuk juga parno-adat (mancang doa) sebelum acara makan bersama.
Walaupun beberapa bahasa Kerinci yang terekspos dalam lagu Kerinci, seperti: lagu berdialek Kerinci (khas Siulak) seperti dalam lagu, lawak dan film Kerinci, lagu berdialek Kerinci (khas Sungai Penuh) seperti dalam lagu, dan lagu berdialek Kerinci (khas Rawang) seperti dalam lagu rendak kudo.
Jadi, bahasa adalah cermin bangsa!

0 komentar:

Posting Komentar