Home » » PURBASANGKA DIRI = OTOKRITIK DIRI (By. Irwanto Al-Krienciehie)

PURBASANGKA DIRI = OTOKRITIK DIRI (By. Irwanto Al-Krienciehie)

Written By Bang Sarjoni on Minggu, 10 Agustus 2014 | 19.25

SULUK PEDUSUNAN 173#

Menjelang memasuki bulan Ramadhan dan akan memasuki 1 Syawal, sahabat2 hamba sering mengirimi SMS pernyataan maaf dengan aneka ragam redaksi dan diksi kalimat, ada dengan gaya berpantun dan ada pula yang bertutur muhasabah/kritik diri.
Konsep semua agama mengajarkan larangan berprasangka buruk (su'uzhon) kepada siapapun, baik yang sesama seagama maupun antaragama, sesuku maupun antarsuku, sebangsa maupun antarbangsa, sepuak maupun antarpuak, sejenis kelamin maupun antargender, dan seterusnya.
Islam mengajarkan muhasabah/kritik diri merupakan sarana untuk memperbaiki kesejatian diri; Islam sangat menganjurkan otokritik pada setiap tutur kata yang terlanjur meluncur dari mulut, tangan yang terlanjur menggapai, kaki yang salah langkah, telinga yang terlanjur mendengar ghibah, namimah dan fitnah, mata yang terlanjur melihat yang diharamkan Allah, serta hati yang terlalu jauh bersakwasangka pada sesama manusia.
Purbasangka diri sesungguhnya adalah sikap kehati-hatian dalam berfikir, bertutur dan bertindak. Dengan purbasangka diri setiap hamba tidak berlaku semena2; dengan purbasangka diri manusia tahu hak dan kewajiban, azas kepatutan dan kepantasan dalam hidup, serta menghormati azas kehidupan sosial di dalam masyarakat.
Otokritik dalam ibadah merupakan sebuah keharusan, karena di hadirat Allah tiada yang tahu siapa yang paling ikhlas, ridho, sabar, syukur, wara', tawadhu, dan qanaah. Sebagai hamba Allah, kita hanya bisa menikmati 'jamuan' Allah berupa hidangan 'lezat' dan 'bergizi' seperti: shalat, puasa, zakat, haji, shadaqah, infaq, ta'awun dan amal ritual dan sosial lainnya.
Otokritik menjadikan hamba Allah ingin selalu mempersembahkan yang terbaik kepada Allah dan khusyuk berkhidmat dalam kehidupan.
Otokritik akan mampu menyingkirkan sifat2 buruk seperti: sombong, bohong, angkuh, iri, hasad, dengki, ghibah, namimah dan kejahatan rohani lainnya. Sehingga kita seperti kaca yang ingin bersih dari kotoran debu.
Purbasangka adalah otokritik untuk memperbaiki diri.

0 komentar:

Posting Komentar