Home » » Laron di Pusaran Pelita (Irwanto)

Laron di Pusaran Pelita (Irwanto)

Written By Bang Sarjoni on Minggu, 10 Agustus 2014 | 14.31

SULUK PEDUSUNAN 172#

LARON DI PUSARAN PELITA 

Kala senja memasuki malam, pelita mulai digelar sebagai pencahaya dalam gulita. Pasukan laron menyerbu pelita untuk mengharapkan 'energi' baru mencerahkan diri.

Sepasukan laron yang berhamburan menuju pelita tidak semuanya selamat meraih cahaya; bahkan banyak laron2 berguguran karena tidak mampu menahan panas pelita, ada pula sayap2 laron yang terbakar pelita, dan adapula laron yang kehabisan 'energi' untuk meraih cahaya.
Begitulah tamsil kehidupan zaman fitnah ini! Betapa banyak model2 training spritual yang dikelola dan diprakarsai para profesional, kiyai, ulama, dan ustadz, namun belum bisa maksimal memasukkan 'pelita' abadi pada batin pesertanya; sangat banyak riyadhah spritual yang dimotori para alim ulama seperti kiyai, syekh, anjengan, ustadz, tuan guru, tengku dan teungku, namun hanya melahirkan ketercerahan sesaat.
Esensinya, memang sebagai hamba Allah kita setiap saat memperbaiki diri dengan tazkiyatunnafs, supaya kesucian batin dapat kita gunakan dalam 'kubangan' kehidupan. Memang terkadang kita lupa, bahwa batin yang selalu kita gunakan mengarungi bahtera kehidupan kurang dirawat dan 'diservis', sehingga sering banyak 'virus2' hati mengrogoti kebatinan kita.
Kalau lebih dalam kita telusuri, laron sebenarnya adalah kita, sedangkan pelita adalah dimensi Allah. Sepanjang hidup kita berpacu dengan waktu untuk tazkiyatunnafs supaya kita dapat mendekati Maha Cahaya. Ada di antara kita sebelum mencapai pelita sejati justru terkapar di jeput El-Maut. Dan, adapula yang dengan kekuatan 'energi' spritualnya mampu menyatukan dengan 'energi' yang ada pada pelita Ilahi.
Itulah hamba2 Allah yang memiliki kesadaran Ilahiah; yakni, berpacu dengan waktu untuk mendekati pelita Ilahi dalam pusaran waktu sampai batas usia hidup berakhir.


Oleh : 
Irwanto Alkrienciehie

0 komentar:

Posting Komentar