Home » » Surat Cinta Sang Pujangga (Bagian 2) . By. Andy Al-Krienciehie

Surat Cinta Sang Pujangga (Bagian 2) . By. Andy Al-Krienciehie

Written By Bang Sarjoni on Kamis, 06 Februari 2014 | 18.58

Meniti Pelangi Mengejar Mimpi

Kala hujan tak ingin pergi, gema alam bernyanyi di sukmaku, dalam sketsa hati yang kering bak kehuasan, kala telaga tak lagi dialiri air, dermaga yang tlah lama tak dikunjungi, mimpi-mimpi berlalu bagai rembulan merintih rindu, bagai gemintang berkedip layu. Kuhiasi segala kepiluan dengan permata yang retak dalam kesenduan. Kuhiasi dengan kemilau serpihan kaca yang berserak di tengah gurun yang tandus. Kubingkaikan dengan daun-daun kering yang berjatuhan diterpa kemarau panjang. Kugoreskan warna-warna alam yang menangis di sudut malam, lalu kubawa berlari mengejar bayang yang ku tak tau di mana kan berakhir
***

Buat Dikau yang masih kusayang, di kepingan jiwaku yang pernah luka. Kali yang kedua ku jumpai dikau lewat Surat cinta ini, dan kembali daku mendo’akan dikau masih di taman cinta dambaan sufi, begitu pula hendaknya keluargamu disana. Amin.
Taman yang membuat daku iri dengan dikau, begitu lengkap yang dikau miliki, keanggunan yang membuai lamunan, keramahan yang membawa keteduhan, tatapan yang membuatku sungkan, sungkan tuk kudekati,  kemanjaan yang sedikit keibuan, dan s’moga saja dikau tidak menganggap ini sebagai rayuan.
Pernah ku katakan hasrat hati hendak meniti, meniti pelangi menggapai mimpi, tapi mimpi-mimpi itu kini semakin membayangi tidurku, semakin menghantui setiap hayalku. Namun kini seolah jiwaku bertarung dengan hasrat hati, terkadang di jiwa terlintas kata pasrah dengan keadaanku yang serba kekurangan, namun hatiku berkata; bahwa kau yang bisa melengkapi kekurangan itu.
Dinda!
Gerimis yang mengemis, pada kabut hitam yang akan menjadi hujan, meminta gurindam dalam lagu yang berkepanjangan, senandung kepasrahan yang mengusik keteduhan, diterpaan sepi dawai musafir yang di perjalanan bak kehausan merindui setitik embun yang memberi kesejukan, namun fatamorgana yang ada disetiap perjalanan, hanya bayangan indah yang tiada berkesudahan.
Di perjalanan panjang, daku masih meminta dikau ‘tuk akhiri perjalanan ini. Selama ini daku bebas menempuh jalan yang tak berkesudahan, sungguh sangat kuharapkan kau kurung daku dalam taman kerinduan ini, biarlah langkahku sampai disini, kurung daku diruang matamu, ikat daku dengan tali cintamu, akhiri perjalanan ku dengan sebuah telaga, telaga yang membuat daku merasa nyaman, telaga yang membuat daku ‘tak ingin pergi.
Hajarul Aswad, tak terletak diatas bumi, tak digantung pada langit tapi dia terkatung tanpa ada kepastian. Digantung tak bertali. Lembar Kiswah pembungkus Ka’bah dengan segala keindahan kalimat yang tertulis, tak ada yang barani membawa dia pergi, tak ada yang berani melepaskan tirai itu, itu yang sebenarnya yang ku damba darimu.
Dinda!
Ada sedikit keyakinan dengan segala kepekaan hati, bahwa dikau mencintaiku, bahwa dikau mau menjadi pelepas dahaga kegersangan hidupku. Tapi setelah kembali kupikir-pikir bahwa itu memang sebuah kata hati tapi ketidak keyakinanku; seorang penyair pernah berkata "kau terlalu suci untukku". Seorang pecinta berpikir "sungguh kau memang tak pantas untukku karena kau bak tiara dikedalaman samudra, bak tajung melingkar gunung, bak bunga menghias syurga sedangkan daku hanya kerikil yang sering terkucil, hanya puisi yang tiada arti".


Yah……Entahlah, entah kapan kan usai perjalanan cinta yang tak sampai, bongkahan rindu yang kian membeku, rintihan qalbu yang masih saja menunggu, dikau hiasi diri dengan iman, dikau sucikan diri dengan keikhlasan, dikau kokohkan hati dengan ketulusan, itu yang membuat daku semakin tak berani menghampirimu… dinda.. daku bingung, apa yang harus kulakukan…?
O....iya…! daku baru teringat, bahwa kalau cinta bukan kata akal, bukan kata nafsu, tapi cinta adalah kata yang terlahir dari hati, kata yang terungkap lewat tatapan mata, karena bahasa mata tak bisa berdusta, dan bila dikau memang mencintai ku, daku juga masih tak berani.
Dinda!
Kutersentak dalam lamunan, bahwa daku juga baru tersadar ternyata bumi juga tak di gantungkan pada bintang-bintang dan juga tak terpaut pada matahari, dia bergerak pada garis edar, sehingga getaran gempapun tak bisa terkendali karena memang bumi terletak pada orbitnya sendiri, begitu juga daku yang tak ada kendali tak ada hubungan apapun dengan mu, dikau tak pedulikan daku sendiri disini, berlalu dalam sepi, tak ada satu bintang yang peduli.
Begitu pula garis edar bulan, yang berputar mengitari bumi, dan sejak dua jam yang lalu, bulan Sya’ban telah berlalu, dengan demikian kini adalah awal Ramadhan, dia masih bersembunyi di dasar samudera, bahkan di tutupi awan, hingga hilalpun tak menampakkan dirinya, begitu pula dikau yang bersmbunyi dariku, dikau tutupi diri dengan Kiswah, dikau biarkan daku dalam kelam, tanpa ada cahaya yang datang tuk terangi. Tapi janji matahari pasti adanya kecuali jika kiamat menjelang.
Dinda!
Musim berganti, bulan bertukar, hari-hari terlewati, namun bayanganmu tak jua pergi, kepastian darimu masih jua kunanti. Walaupun bumi harus bergoncang dengan dahsyatnya, tapi semakin bergoncang bumi ini, semakin bergolak pula rasa rindu di qalbu. Malah lebih dahsyat lagi di banding getaran bumi yang menampakkan kebesaran Ilahi.
Sungguh Suatu kebesaran Sang Maha Cinta Sejati jika bumi ini di goncang dengan segoncang-goncangnya, namun lebih berarti lagi kebesaran Sang Pecinta Agung yang telah memberikan getaran pada hati ini. Wajilat qulubuhum (dan menggetarkan hati mereka). Sekali lagi, dinda jangan dianggap ini adalah nazam rayuan cinta tapi daku hanya berkata apa adanya.
Dinda!
Jika ada yang berkata; “daku mencintaimu”, maka perlu dinda tanyakan lagi kepada kata hati dinda, benarkah semua itu? Tapi kata cinta dihati ini tak perlu dinda tanyakan lagi, walaupun daku harus menderita demi cinta itu, maka itulah kebahagiaan ku yang sebenarnya, dan jika memang ku harus mati demi cinta itu, maka kuyakin itulah yang dimaksud oleh Sang Pecinta Sejati kalau cinta ini lah yang merupakan fitrah dari-Nya, dan tetap saja cinta kepada-Nya adalah cinta yang tertinggi.
Terakhir; walau bagaimanapun kuungkapkan kata-kata cinta, biar bagaimanapun daku ikrarkan rasa hati ini tapi yang pasti jawabannya hanya ada pada kata hatimu, dan yang jelas, jika dikau kata kan sayang padaku, namun keraguanku yang masih bermain di benakku, kuharap dikau cintai daku seadanya, bukan rasa iba, bukan karena terpaksa, bukan pula karena daku terlalu banyak mengungkapkan kata cinta, tapi, kata hati itulah yang sebanarnya. Qulil Haq walau kana murra, katakan yang sebenarnya walau pahit sekalipun. Kan kuterima dengan lapang dada. Namun yang pasti, semakin dalam rasa cinta semakin ikhlas menerima seadanya, semakin gebu rindu di qalbu, semakin sabar dalam menunggu. Kutunggu dikau walau harus di padang mahsyar.
***
Bersambung......

0 komentar:

Posting Komentar