Home » » Surat Cinta Sang Pujangga - 7 (By. Andy Al-krienciehie)

Surat Cinta Sang Pujangga - 7 (By. Andy Al-krienciehie)

Written By Bang Sarjoni on Rabu, 19 Februari 2014 | 16.16



Rindu Azali
Dari lembah hijau toska, kucoba maknai luka, agar tangan-tangan malaikat tak melemparkanku ke neraka, dentingan dawai para sufi menuntunku kekampung azali. Atau dikau telan saja racun itu, agar semuanya tak ada lagi, dan rona akan menyapa besok pagi. Jangan pecahkan sutera itu, karena itu dambaku. Hadirlah disetiap desahku. Belailah disetiap lamunku, agar kutahu seberapa tulus kucintai dirimu
***

Buat bayangan pelipur lara di dunia yang menjadi asa
Semoga dinda masih tetap berada dijalan-Nya yang suci tanpa noda. Dan alhamdulillah daku masih selalu akan berusaha untuk selalu memperbaiki diri dari kesalahan yang pernah kulakukan pada dunia masa laluku yang kelam tanpa cahaya remang sekalipun.
Dinda!
Terkadang hati bimbang, seiring perginya petang meninggalkan siang, ketika azan berkumandang, jiwa ini kembali hampa, anganku menerawang, seandainya dinda bersamaku kala itu, alangkah indahnya dunia, alangkah indahnya hidup ini.
Dimana rindu kutitipkan, jika qalbu tak getar. Siapa dibalik tirai hingga wayang hanya berputar, sejuta membayang angan daku tak rindu, segunung dambaan mata daku tak rindu, sedunia persemaian cinta daku juga tak rindu, namun ada kerinduan didalam kehidupan silam, walau telah tertinggal, kuyakin dia kan datang, pun mawar layu ditaman, atau surya bersinar hitam, nista menggenggam maya, dipagiku yang tua, tapi tiada pudar tunggu dalam waktu
Kala kubasuh muka dengan percikan air wudhu, terasa alangkah hinanya diri ini. Mataku yang dulu penuh maksiat, yang kugunakan tuk melihat kebathilan yang ada, tanganku yang slama ini telah terlalu banyak berbuat kesalahan, lisanku yang telah membuat banyak orang tersakiti.
Dinda!
Penyeselan akan dosa masa laluku, selalu menghantui setiap desah nafas yang telah lama sia-sia, yang tiada kugunakan untuk berzikir pada-Nya. Kaku kakiku untuk melangkah kerumah-Nya, karena malu, malu dengan diriku sendiri, yang dulu kaki ini selalu kupakai ketempat yang tidak memberi manfaat. 
          Telah begitu banyak kesalahan yang kulakukan, tapi Tuhan ku masih saja mengampuniku, telah begitu banyak aib yang kulakukan, namun Tuhanku masih saja menyembunyikan aib itu, Telah banyak umur yang salah kugunakan, tapi Tuhanku masih saja memberikan peluang untuk bertaubat dan kembali kejalannya.
          Sungguh, sungguh begitu besar nikmatnya yang kuterima, tapi apa balasanku? Memang betul yang dikatakan sahabatku, daku adalah orang yang tidak bisa berterima kasih, orang yang tidak bisa bersyukur, dan tak tahu balas budi. Kemaha agungan-Nya, seakan tak mengetuk hatiku, Maha besarnya rasanya ingin kutandingi dengan dengan besarnya ego ini.
Persinggahan semula, langkahku melaju mengejar waktu, wajah mereka seribu menyapa daku, telah cukup jauh kujelajah, namun jiwaku masih saja di sini, di tempat persinggahan semula, kurenang samudra andalas, kutempuh pegunungan Himalaya, kujejaki dataran Cina, bah ku singgah di gurun Sahara, tapi jiwaku tak kunjung tiba, benarkah daku tersesat dalam mimpi semalam? Atau terkurung dalam di jeruji sukma dara. Jika tersesat kemana kan kucari, jika terkurung kemana kan kutepati, tapi daku telah digusung, daku kan beku walau diterpa mentari.
Sebenar tiada  jauh tapi terlihat, masih terkurung di ruang mata dan terikat di jeruji sukma, ya.....Di pohon yang sama, nyanyian duka yang sendu jadikan daku rindu, kerinduan yang tertinggal di pelabuhan semula, di senja yang muram, temaram masih saja di lembah qalbu, dikau mawar, mawar batu, batu hati, hati bulan, bulan yang jauh, jauhpun terlihat. dipagi yang tua ini bulan masih setia menanti malam, sungguh pasi. Walau gerimis masih mengemis, pawana menerpa, dan surya datang memaksa, namun kaca tetaplah kaca, kaca yang retak tersentak, daku luka saat berkaca, tapi haruskah daku berkaca pada kaca yang melukai kaca hatiku?
          Daku ingin kembali kepada kampung azaliku yang silam, yang mendekatkan daku kepada kerinduan akan belaian cinta yang Maha Mencintai. yang berbisik dengan kelembutan hati, yang berkata dengan nurani, yang merangkul dengan kehangatan dan kedekatan jiwa.
           Daku rindu…rindu dengan suasana yang penuh ketentraman hati, yang tlah lama tak kutemui. Kini baru mulai kumengerti ternyata memang tak ada yang patut di puji, melainkan Dia yang maha terpuji. Kusadari, kesalahanku pada dinda memang sangat besar, yang mencoba tuk mengotori hati dinda dengan egoku yang tinggi.
          Biarlah, biarlahku tebus kesalahanku, dengan berusaha mengabdikan diri kepada bangsa dan agama ini, biarlah kuperbaiki semua kekhilafanku dengan berbuat yang lebih berarti. Karena kutahu kehidupan abadi adalah kehidupan setelah mati. Nuun Walqalami wama yasthurun. Wassalam

0 komentar:

Posting Komentar