Home » » SURAT CINTA SANG PUJANGGA - 6 (By. Andy Al-krienciehie)

SURAT CINTA SANG PUJANGGA - 6 (By. Andy Al-krienciehie)

Written By Bang Sarjoni on Kamis, 13 Februari 2014 | 16.29


Tunggu Daku di Taman Syurga

Sirami rindu itu dengan telaga cintamu, jangan biarkan beku karena matahari. Teguk saja cinta ini biar bersemayam direlung hati. Jadilah permaisuriku, agar Tuhan saja yang berani pisahkan kita. Dan tunggu daku di taman syurga, atau dikau kutunggu di Jurang api neraka.
***

Buat dikau, duhai dambaanku.
Kesekian kalinya kujumpai dinda lewat surat ini. Dan tak henti-hentinya ku do'akan semoga dinda selalu dalam lindungan-Nya. Begitu pula keluargamu. Selalu dalam keadaan sehat wal 'afiat.
          Dinda!
Kali ini daku ingin menceritakan apa yang kujalani selama ikut pengajian bersama ustadz Mukhlis. Beliau orangnya sangat baik dan bijak, daku mulai tertarik dengan apa-apa yang beliau sampaikan di dalam pengajian, bahasa beliau sangat memberi kedamaian pada hati ini, dan mungkin jika dinda mengenal beliau, dinda juga kan senang dengan beliau barangkali. Tapi, bukan tentang ustadz mukhlis yang ingin daku ceritakan, tapi tentang pengajiannya
          Ternyata Islam bukan seperti yang kubayangkan, Karena setahu ku, islam adalah agama yang berbicara tentang; ini tidak boleh, itu tidak boleh, ini haram, itu halal, ini syurga, itu neraka, ini jin itu manusia. Dan banyak lagi hal-hal yang menyangkut dengan yang gaib saja.
          Kata Ustadz mukhlis; Islam adalah agama yang memberikan kesejukan kala manusia gersang, Islam memberikan ketenangan tika manusia gundah gulana, dan Islam memberikan solusi ketika manusia tak tau jalan untuk kembali.
Daku sekarang mulai memahami, mengapa dinda, tak mau memberi jawaban atas segala pertanyaanku beberapa waktu lalu, ketika daku meminta dinda tuk menjadi kekasih hatiku. meminta dinda untuk menjadi seseorang yang bisa membuka pintu hidayah untukku.
Jawabannya karena untuk menjalin hubungan cinta tanpa 'akad' saja dalam islam masih dipertanyakan keberadaannya. Dan karena islam tak pernah mengajarkan hubungan yang akan daku bina bersama dikau, terlepas dari dikau cinta atau tidak.
Kemudian untuk mendapatkan hidayah, bukan dari orang lain, bukan dari sebuah pemaksaan, bukan pula dari siapa-siapa, tapi dari sebuah kesadaran selaku makhluk yang dhaif dan memiliki banyak kekurangan, maka pintu hidayah itu akan terbuka, dan mengembalikan manusia kepada fitrahnya, bukankah begitu dinda?
Memang cinta adalah fitrah manusia, terkadang manusia sering salah memaknai cinta. Seperti halnya daku dulu, yang memberi makna cinta adalah segalanya, ternyata bukan.
Mungkin daku telah terjebak dengan cinta semu, cinta yang membuat daku lupa, lupa dengan tujuan hidup yang sebenarnya. Baru kusadari bahwa tujuan hidup manusia yang sebenarnya adalah untuk mengabdikan diri kepada yang maha kuasa wama khalaqtu jinna wal insan illa liya'budun.
Terima kasih dinda, dikau telah memberikan yang terbaik untuk ku, walau dengan jalan dikau tak pedulikan daku, tapi dengan cara itu pula kusadari kesalahanku selama ini. Dengan cara itu jua daku pahami arti diri. Diri yang telah lama hampa karena terlalu berharap kepada yang fana, padahal ada yang lebih kekal dan abadi selamanya.
Maaf jika kalimat-kalimatku terkesan memberi pelajaran kepada orang sudah faham. Tapi daku hanya sekedar ingin bercerita tentang apa yang ku rasa. Jazakillah khairan katsiran.

0 komentar:

Posting Komentar