Home » » Surat Cinta Sang Pujangga - 4 (By. Andy Al-Krienciehie)

Surat Cinta Sang Pujangga - 4 (By. Andy Al-Krienciehie)

Written By Bang Sarjoni on Minggu, 09 Februari 2014 | 18.19

Cintaku di Langit Ketujuh

Dilangit ketujuh kuberdiri namun rindu menggamit jua, pada purnama kesembilan daku bertahta namun cinta takkan pernah sirna. Ingin kuteriakkan pada dasar samudera. Ingin kuteriakkan pada jagad raya. Tapi semua hanya diam seribu bahasa.
***

Buat dinda di jeruji jiwa, tuk kali yang keempat kujumpai dinda lewat pesan ini, daku yakin dinda masih menjaga diri dan menjaga kesucian hati.
T'lah lunas semua kata demi kata kubisik namamu, tlah kupikat sribu bahasa tuk memanggil namamu, jangankan tanda jawab, komapun tak dikau sematkan di akhir kalimatku, setidaknya tengok, lirik atau tersenyumlah, sebagai tanda dikau pernah mengenalku, namun kini yang ada hanya suara-suara lelayu dan isyarat bisu, menantimu, daku belum mati dalam penantian.
Dinda!
Kita pernah dengar tentang kisah cinta siti hajar dengan Ibrahim, as. Yang hidup bersama dalam membina rumah tangga, mereka saling mencintai dalam sekian masa, walaupun harus hidup tanpa keturunan namun kasih sayang mereka tak pernah pudar, dan tak henti memohon kepada sang khaliq yang manciptakan semua yang ada. Dan setelah ismail lahir sebagai buah kasih sayang mereka, ismailpun harus mereka korbankan demi cinta kepada yang maha mencintai. Tapi sebagai imbalan keikhlasan mereka. Ismailpun digantikan untuk dikorbankan dengan seekor kibas, hingga kasih sayang mereka tetap kekal dalam mahligai cinta karena keikhlasan tiada tara.
Kemudian sakarang pada sebuah cerita cinta dan keikhlasan seorang gadis mendapatkan seseorang yang bisa melepas semuanya dengan keikhlasan. Daku yakin bahwa puncak dari rasa cinta yang tertinggi adalah keikhlasan untuk melepaskan apa yang paling kita cintai. Mungkin memang cinta tak harus memiliki.
Dinda!
Ketika cinta harus diuji, maka ikhlaslah jawabannya, ketika sayang harus terbuang maka ikhlasnya muaranya, dan ketika kasih harus memilih maka ikhlas pilihannya, ketika hati harus terluka, maka ikhlaslah pengobatnya, ketika rindu harus beku maka ikhlaslah penawarnya, bahkan ketika ajal harus menghampiri maka ikhlas jualah yang akan memberi kehidupan yang hakiki untuk selamanya.
Tika jiwa tak kenal cinta, maka sayang yang harus bicara, dan kasihlah sebagai penengahnya. Ingin kurelakan kepergian dinda tapi jiwa terlalu hiba. Ingin kuikhlas semunya tapi hati berkata tak tega. Hingga ikhlas tapi tak rela yang bisa terkata, mungkin semua itu karena rasa cinta yang tak ada habisnya.
Dilangit ketujuh daku berdiri namun rindu menggamit jua, pada purnama kesembilan daku bertahta namun cinta takkan pernah sirna. Ingin kuteriakkan pada dasar samudera. Ingin kuteriakkan pada jagad raya, tapi semua hanya diam seribu bahasa.
Dinda!
Setelah kupertimbangkan semua ternyata daku masih perlu belajar mencintai dinda dengan sebenar-benar cinta yaitu dengan maqam keikhlasan. Dinda mungkin pernah dengar Maqam tertinggi rabi'ah al-adawiyah adalah Mahabbah (cinta), namun daku harus menjalani maqam itu dengan tingkatan tertinggi mahhabbah yaitu Ikhlas. Karena tuhanpun telah berpesan ..."Hadapkanlah mukamu kepada agama dengan tulus dan ikhlas dan janganlah kamu Termasuk orang-orang yang musyrik”. (QS. Yunus: 105).
Dinda!
Untuk kali ini daku tak ingin berpanjang lebar, karena daku ingin belajar untuk ikhlaskan dikau yang tak mampu untuk ku gapai.
Wassalam...
Dari ku yang mencoba untuk ikhlas melepas dirimu.
 

0 komentar:

Posting Komentar