Home » » Surat Cinta Sang Pujangga - 3 (By. Andy Al-Krienciehie)

Surat Cinta Sang Pujangga - 3 (By. Andy Al-Krienciehie)

Written By Bang Sarjoni on Sabtu, 08 Februari 2014 | 16.27

Noktah Hitam Perjuangan

Tak ingin kuberharap tapi mata telah buta, kudendangkan tembang yang angkuh agar jiwa ikut angkuh, kubuang bayang kelaut agar hilang dalam sesak, kubekukan hati yang ingin agar kesetiaan tak ada. Kubersemayam diselangkangan malam, agar mimpi tak menghampiri.

***



Buat dinda yang kudamba cintanya. Kali yang ketiga ini, kembali daku menjumpai dinda dengan airmata yang jatuh kedalam lubuk hati, seraya berdo'a semoga dinda fahami rasa ini, dan semoga dinda, dapat fahami diri ini.

Diri yang selalu berbuat salah, kusadari terkadang daku merasa bagai seorang yang munafik, walaupun tak dikau ungkapkan daku juga sudah tau akan hal intu, kemunafikan yang menghantui diri, lebih buruk dari orang kafir yang darahnya halal bagimu selaku muslimah sejati. Sedangkan kini daku seperti yang pernah dikatakan orang tua dulu; Orang mekah arab badwi/Hendak pergi dihari petang/Islam tanggung kafir tak jadi/Kemana diri akan dibuang.

Dinda!

Sebenarnya yang sangat kuharapkan darimu, adalah cinta yang menggiringku kejalan Ilahi, yang menunjukkan ku hidayah yang tak mungkin kudapatkan dari seorang gadis sembarangan atau kasarnya adalah gadis murahan, karena itulah daku mencintaimu, namun ternyata yang kusayang tak kunjung datang, yang ku inginkan tak kunjung tiba, yang ku harapkan entah kemana.  sebelum daku mendapatkan hidayah itu, kurasa dikau sudah keburu ingin pergi, bukan kah sudah pernah kukatakan, dibalik kesuksesan seorang lelaki,  harus ada seorang wanita mulia yang mendampinginya,  seperti dirimu dinda! Andaikan dinda mengerti perasaanku..... yah! Entahlah!

Adam, as. Terbuang kebumi bukannya sendiri, tapi beliau tegar karena hawa pasti bersama.  Nabi ayub tegar menerima cobaan, tak luput dari wanita shalehah yang mendampinginya, bahkan seorang insan kamil, (Nabi Muhammad SAW) disaat berjuang, di samping beliau pernah ada Khadijah, Aisyah, fatimah dan masih ada saja yang mendampingi ketegaran beliau kala itu. Bahkan di Republik ini; pahlawan wanita pun juga mendampingi perjuangn seorang lelaki. Semoga dinda masih ingat tentang arti penting seorang wanita di bangsa ini.

Memang wanita adalah denyut nadi kehidupan, maka ketika  berbicara tentang wanita berarti juga membicarakan kehidupan itu sendiri secara keseluruhan karena "al mar'atu 'imadil bilad" (wanita itu tiang negara). Bila baik wanita, baik pula kondisi negaranya. Dalam Islam pun terdapat bagian yang mengatur kehidupan wanita, agar mereka yang pada dasarnya telah mendapat tempat mulia itu, menjadi wanita Islam yang sejati. Wanita Islam itu wanita yang tak keluar dari fisabilillah.

Adanya sosok wanita seperti itu terlahir dari potensi fitrah yang ruhaniyah, fikriyah, dan jasadiyahnya tunduk pada aturan Allah dan RasulNya dan bisa menjalankan peranannya dengan baik dan benar, sehingga Allah ridha atasnya.

Goresan tinta emas sejarah telah mengukir sejumlah nama sahabiyah di balik kecemerlangan dan kejayaan Islam. Khadijah binti Khuwalid, Fathimah Az-Zahra, Aisyah dan masih banyak lagi yang lainnya.

Mereka wanita Islam yang telah teruji sebagai individu yang bertaqwa kepada Allah, menjunjung tinggi risalah yang dibawa Rasulullah. Mereka muslimah dengan kepedulian sosial yang tinggi terhadap sesama manusia dan sesama makhluk Allah. Merekalah sosok istri yang benar-benar bisa mendukung setiap perjuangan dan membahagiakan suami mereka di jalan Allah. Merekalah ummahatyang berhasil dalam tarbiyatul awlaad, yang dapat melahirkan keturunan generasi kebangaan Islam. Mereka juga merupakan sosok da'iyah yang tak pernah berhenti dari da'wah ilallah, yang senantiasa mengadakan pendekatan ke umat. Maka di manakah lagi bisa daku temukan profil atau sosok wanita yang lebih baik dari yang demikian itu?

Dinda!

Mungkin dikaulah wanita muslimah yang akan menggantikan nama-nama itu, sunggug daku tahu perjuangannya berbeda tapi substansinya tetap sama. kusadari, dikau belum menjadi hakku, dan cintamu pasti didamba oleh banyak mujahid muda, yang sangat jauh berbeda denganku. Tapi apa daku salah bila mencintaimu? Apa daku salah jika ingin bersamamu? O…ya daku baru ingat bahwa memang wanita adalah pakaian bagi laki-laki, dan laki-laki adalah pakaian bagi wanita tapi mungkin daku lupa bahwa “wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)...(QS. An-nur;26).

Wajar jika dikau ingin pergi dariku. Karena dikau terlalu baik untukku sedangkan daku  seekor belibis putih yang jatuh kedalam lumpur hitam, sangat wajar sekali jika dikau tak ingin menghampiriku. Jika dinda memang tidak mencintaiku. Pergilah…..Pergi…..Jangan dekati daku! biarkan daku sendiri, biarkan daku selamanya begini, biarkan neraka jahanam hanya daku yang mengisi, biarlah! cukup daku saja, dan selamat buat dikau yang kan menjadi ahli syurga firdaus bersama petikan dawai para sufi. Dan daku menjadi santapan lahap api neraka seperti yang dinda inginkan.

Usah pedulikan daku! teruskan langkahmu, lanjutkan perjuanganmu. Jangan sekali-kali dikau lirik daku lagi. Mungkin itu memang yang terbaik buat diriku. Iluk ditiru iko ngan siak/Tgak sembahyang di tengah malam/Duduk didalam surau tuo/Di dunia cam ka idak/Di akherat wallahua'lam/Ntah pobilo maso busuo.

Tuhanku maha tahu akan jeritan jiwa ini, entahlah dengan Tuhanmu…..daku tak tau. Tuhanku maha pengampun, mengampuni segala kesalahan, entah lah dengan dirimu. Daku tak tau, tuhan ku maha penyayang dan Dia pasti sayangi daku, tapi entahlah dengan dirimu hanya dikau yang tau.

Bila suatu saat nanti hatimu berubah hingga bisa menerimaku, maka jemputlah diri ini, mungkin disebuah gereja, pura, kuil, club malam ternama, atau di sebuah hotel megah penuh gairah, ataupun di penjara, bersama munafikunlainnya, mungkin koruptor, pahlawan kesiangan, atau pun mereka yang sederajat denganku.

Pastinya, daku adalah manusia yang masih menyimpan nurani. Dan Tuhanku masih dekat dengan urat leherku. Dan daku masih percaya dengan taqdir. Karena Dajjalpun punya taqdir menjadi kafir, atau mungkin daku dajjal itu? Ah..... Tidak, tidak mungkin, karena di dahiku tak ada tulisan kafir, tapi mungkin yang ada tulisan munafiq. Jika dinda mencintaiku, maka bawalah daku dalam dunia indahmu, bawalah daku dari dunia yang hitam ini, dari dunia masa laluku yang seandaikan dikau tahu dikau pasti akan menjauhiku.

Dinda!

Maafkan daku jika selama ini daku selalu menyakitimu karena daku bukanlah seorang sufi.

Terima kasih, dikau telah bersedia meluangkan sedikit waktu untuk membaca suara hati ini. Dan telah meluangkan sedikit waktu untukku. Maafkan, karena daku sudah mengganggu hari-harimu. Dan mengganggu Nufsun Mutmainnah-mu.

0 komentar:

Posting Komentar