Home » » Surat Cinta Sang Pujangga - 1 (Pesan lara buat bidadari syurga)

Surat Cinta Sang Pujangga - 1 (Pesan lara buat bidadari syurga)

Written By Bang Sarjoni on Selasa, 04 Februari 2014 | 02.38

Puisi Andi Yalmi Al-krienciehie
Lewat puing-puing tulisan penulis dari surat-surat cinta di media massa. Penulis berusaha untuk mengurai menjadi satu tulisan dengan judul :Wasiat Cinta Syuhada, Pesan Lara buat Bidadari Syurga Tulisan ini membawa kita menapaki jalan-jalan terjal kehidupan insan.
Ketika cinta harus diuji, maka ikhlaslah jawabannya, ketika sayang harus terbuang maka ikhlaslah muaranya, dan ketika kasih harus memilih maka ikhlas jualah pilihannya, ketika hati harus terluka, maka ikhlaslah pengobatnya, ketika rindu harus beku maka ikhlaslah penawarnya, bahkan ketika ajal harus menjelang maka ikhlas jualah yang akan memberi kehidupan yang hakiki untuk selamanya.
Bagian Pertama : Surat Cinta dari Pujangga 1
· Samudera Cinta
· Meniti Pelangi Mengejar Mimpi
· Noktah Hitam Perjuangan
· Cintaku di Langit Ketujuh
Bagian Kedua : Surat Cinta dari Pujangga 2
· Fatwa Pujangga
· Tunggu Daku di Taman Syurga
· Rindu Azali
· Bunga Syurgaku
Bagian Ketiga : Surat Cinta dari Pujangga 3
· Jalan Cinta Sufi
· Hidup Imitasi Mimpi
· Persimpangan Jalan
· Buronan Nomor Wahid
Bagian keempat : Surat Cinta dari Pujangga 4
· Biar Bermandi Lumpur
· Selamat; Dikau Menang
· Mengalah Bukanlah Kalah
· Belati Menghujam Hati
Bagian Kelima : Surat Cinta dari Pujangga 5
· Merajuk Tak Ingin di Bujuk
· Rintihan Penyesalan
· Jiwa Ujung Pedang
· Cintaku di Sidratul Munthaha
Surat Cinta dari Pujangga 1
SAMUDERA CINTA
Ingin kupetik kuntum kasturi, semoga saja tak terlalu mahal untuk kupersembahkan buatmu, yang kuragu bukan harga, tapi adakah dikaukan terima? Terserak kaca terhempas, terinjak kaki berdarah, itu belum seberapa. Terbuang kembang kau lepas berpaling wajah tak ramah, itulah luka yang paling dalam. Tak kupetik hasrat di qalbu, nak kupetik hati ragu. Bukan hanya sekali ronta, bahkan sejuta.
***
Buat yang asa karna cinta, buat yang gebu karena rindu, buat yang sepi karena sendiri, buat yang hilang karena malang, buat dikau yang t’lah lama dalam hayalku. Padamu suara hati ini kupersembahkan, padamu bisikan jiwa ini kuperuntukkan.
Dinda!
Mengawali jumpa kita walau hanya lewat goresan-goresan tinta ini, daku mendo’akan dikau selalu dalam belaian kasih mesra Sang Pecinta Sejati, Dialah Allah yang Maha Mencintai, yang tak pernah berujung cinta-Nya, yang kasihnya takkan hilang ditelan masa, dan semoga saja rasa cinta itu juga masih melekat pada kita sebagai insan yang diberikan rasa sayang, atau setidaknya selaku manusia biasa masih memiliki rasa cinta walaupun hanya sisa-sisa.
Adam dan Hawa saling mencari pada sekian masa, Qais dan Laila terkubur dalam rasa cinta, Romeo dan Juliet pergi atas nama cinta. Kata sang aktifis legendaries, Soe Hok Gie; “Ada orang yang menghabiskan waktunya untuk berziarah ke mekah, adapula orang yang menghabiskan waktunya untuk berjudi di Miraza tapi aku ingin menghabiskan waktuku untuk selalu disampingmu sayangku!” Yang kusalut adalah orang yang rela menghabiskan waktunya untuk selalu disamping kekasihnya, yang menjadi pertanyaanku; Daku kan mencari siapa? Bersama cinta siapa ku kan terkubur? Atas nama cinta siapa daku kan pergi? Kepada siapa kesetiaan ini kan daku persembahkan? Dan yang terpenting, di sisi siapa daku kan menghabiskan waktuku?
Mungkin daku angin haluan yang selalu berlawanan arah kapal, atau daku cahaya remang yang tak sanggup tuk menerangi kegelapan, atau memang temaram senja yang hanya menunggu malam?
Manusia pertama tercipta dari diri yang satu, maka merekapun bersatu, begitu pula keturunan nya. Seperti telah dijelaskan oleh sang pecinta sejati dalam surat cinta-Nya: “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya. Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS. An-nisa; 1).
Tak lengkap rasanya jika belum mampu untuk menemukan bagian diri yang belum diketahui keberadaannya, hingga kini tak ada kicauan burung, tak ada angin berembus, tak ada hujan, tak ada panas, tak ada air mengalir, tak ada batu berukir hanya sepi membalut diri. Haruskah hujan menghantam? Haruskah awan bergumpal? Haruskah duri ku genggam? Haruskah hati membeku? Dan masih seribu tanya menunggu.
Permata yang hilang di telan debu mayapada, putri Nirmala yang menunggu di Mahligai cinta. Siapa? Siapa? Putri Nirmalaku? dimana permataku? Bukit berbunga berhias rona, walau tinggi pasti kan kugapai jua. Tapi yang belum kumengerti; dimana bukit berbunga itu, tempat bermainnya para pecinta, yang berpuisi dengan syair kasih mesra, yang menyanyi dengan senandung asmara?
Kukunjungi setiap pusara yang ditumbuhi kamboja bahkan inggu, tapi Permataku juga tiada, kuziarahi makam tua yang hanya tinggal nisan, namun putri nirmalaku juga tiada, bahkan disetiap yang kutemui daku bertanya. Namun sayang semua mereka tak tau apa-apa, mereka tak tau tentang hatiku yang t’lah lama beku, mereka tak tau tentang jiwaku yang t’lah lama hampa, mereka juga tak tau diriku yang gersang dalam kemarau yang berkepanjangan.
Hingga kini pagi pergi tanpa pesan, tak jua kesan, siang hilang tanpa bayang pun jua terang, petang berlalu tanpa syahdu tapi hanya rindu, kerinduan yang tak pasti, siapa yang dirindui?
Senjapun terlewatkan hanya untuk menanti yang tak pasti menunggu yang tak tentu. Istilah Sutardji CB; “Hendak kugapai tangan tak sampai, hendak ku bayangkan angan tak sampai, hendak kuimpikan waktu tak sampai dan hendak kulupakan hati tak sampai”. Dan kini malam telah membayang, mungkinkah malamku kan berhias gemintang?
Mungkinkah malamku kan ditemani cahaya rembulan? Mungkinkah malamku kan dipenuhi mimpi-mimpi indah di taman Nirwana? Atau malamku akan ditutupi kabut tebal? Dan di guyuri hujan dalam kegelapan?
Ibrahim yakin Tuhan ada, maka dia terus mencari dan terus mencarinya, malaikat-malaikat yakin Tuhanpun ada, maka mereka selalu setia dan menghamba pada-Nya. Begitu pula dengan ku, daku yakin permataku pasti ada.
Kini daku berkeputusan beku hati tak berarti mati, karena cinta akan pasti setia, masa lalu tidaklah nyata, karena dunia masih memberi asa, semua itu hanya baru pelabuhan pertama, pada purnama kesembilan rindu kan mengamit jua, di samudera cinta, pantai masih menanti ombak yang menepi, di mega senja, lembayung pasti tampakkan cahayanya.
Tapi daku yakin malam kan hadirkan rembulan bersama seribu gemintang, setidaknya ada kejora yang berkedip dimalam yang kian kelam dan mungkinkah fajar esok akan menggantikan hari-hariku yang telah pergi?
Untuk meneguhkan keyakinanku pada permata yang hendak kupuja, sungguh ku berharap dikau bisa menjadi ”Permataku”, karena keyakinanku dikaulah Permataku.
Ini adalah bagian dari suara hati, dan inipun adalah bagian dari keyakinanku; Dikau permataku, dikau putri nirmalaku, mata hari hidupku, mata air perjalananku, mata hati langkahku, karena daku masih melangkah dalam kegelapan, asaku memang dikau dambaku.
Dinda!
Jangan biarkan keyakinanku hilang, usah biarkan suara hatiku bisu tapi jawablah dengan rasa cinta seadanya, bukan dengan rasa iba tak pula karena terpaksa dan jika memang dikau merasa dikau bukanlah permataku, biarkan cinta ini pergi. Tapi setidaknya tengok, lirik atau tersenyumlah. Sebagai tanda dikau pernah mengenalku, walaupun berat untuk melangkahkan kakiku karena keyakinan ku telah terpaut padamu dan namamupun telah terukir di hati. Apalagi wajahmu, telah terkurung di ruang mataku.
Jika dikau benar permataku, semaikan rasa ini di ladang-ladang persemaian cinta di bukit yang berbunga, yang tercipta dalam kasih sayang yang tak akan sirna.
Dinda!
Dunia ini memang satu, tapi daku tau kita pasti berbeda dalam memandang dunia ini, mungkin dikau memandang dunia ini dari sisi kanan, sedang kan daku melihatnya dari dalam dunia ini sendiri, maka kita sering berbeda dalam menilai dunia, wajar terkadang kita berbeda dalam memandang cinta.
Kadang daku merasa daku sudah penuh dengan lumpur dunia ini, sedangkan dikau masih suci dan bersih. Seandainya jika dikau berkata, dikau tak pantas disisiku, maka daku akan merasa lebih tak pantas untuk berada disisimu. Karna kutau jiwaku yang sudah penuh dengan luka yang telah hitam seiring pekatnya malam.
Dinda!
Jika ada belibis putih yang terjatuh kedalam lumpur hitam, mungkin dikau hanya mendengar kabarnya saja, tapi daku melihatnya dengan mataku sendiri. Bahkan mungkin daku belibis putih itu yang terjatuh kedalam lumpur hitam yang penuh dengan bau amis bekas darah rembulan malam yang terluka karena disakiti matahari.
Kuatnya seorang lelaki tidak terlepas dari siapa yang mendampinginya. Dan disaat seorang lelaki tidak mampu lagi berbuat apa-apa maka wanitalah yang mampu untuk melanjutkan sebuah perjuangan itu dan daku yakin dikau lebih mampu untuk semua itu.
Yah… Telah cukup jauh daku melangkah, telah cukup langcang daku berkata, telah cukup banyak daku berharap…hingga mungkin banyak hal yang kan terpikir tentang diriku... Yang tak tahu diri, tak tahu arti diri, tak tahu menebak hati, tak tahu orang benci, barangkali…
Hasrat hati hendak meniti, meniti pelangi menggapai mimpi, gebu Qalbu menggamit rindu, rindu beku hanya padamu. Namun…jiwa kadang meronta, nafsu kadang meragu, langkah sering tersalah, kata menjebak dusta, mulut menjemput maut. Tapi… niat tak pernah khianat.
Lewat kabut kesalahan ku renggut, lewat awan nafsu ku lawan, lewat cahaya asa ku pinta, lewat embun pagi… ku titip segala kerendahan hati, memohon kema’afan salahnya diri.

BERSAMBUNG...

0 komentar:

Posting Komentar