Home » » MENILIK BUDAYA PERANG SUKU KERINCI

MENILIK BUDAYA PERANG SUKU KERINCI

Written By Bang Sarjoni on Kamis, 13 Februari 2014 | 19.02

BUDAYA PERANG SUKU KERINCI[1

Setelah beberapa bulan terakhir ini, sering terjadi kericuhan di Kerinci, yang bermula dari pergolakan politik, dan jauh sebelum ini, juga pernah terjadi konflik antar kelompok masyarakat, hingga mengakibatkan kebakarn besar.

Berangkat dari hal di atas saya tertarik untuk mempelajari tentang kebudayaan kerinci yang berhubungan dengan budaya perang, singkat cerita saya bertemu dengan sebuah blog pribadi yang memuat tentang budaya perang di kerinci.

Sebelum membahas tentang budaya perang, saya akan menilik kembali tentang  nama ‘Kerinci’ yang berasal dari bahasa Tamil “Kurinci”. Tanah Tamil dapat dibagi menjadi empat kawasan yang dinamakan menurut bunga yang khas untuk masing-masing daerah. Bunga yang khas untuk daerah pegunungan ialah bunga Kurinci (Latin Strobilanthus. Dengan demikian Kurinci juga bererti 'kawasan pegunungan'.

Di zaman dahulu Sumatra dikenal dengan istilah Swarnadwipa atau Swarnabhumi (tanah atau pulau emas). Kala itu Kerinci, Lebong dan Minangkabau menjadi wilayah penghasil emas utama di Indonesia (walaupun kebanyakan sumber emas terdapat di luar Kabupaten Kerinci di daerah Pangkalan Jambu, Kabupaten Merangin). Di daerah Kerinci banyak ditemukan batu-batuan Megalithicum dari zaman Gangsa (Bronze Age) dengan pengaruh Buddha termasuk keramik Tiongkok. Hal ini menunjukkan wilayah ini telah banyak berhubungan dengan dunia luar.

Awalnya ‘Kerinci’ adalah nama sebuah gunung dan danau (tasik), tetapi kemudian wilayah yang berada di sekitarnya disebut dengan nama yang sama. Dengan begitu daerahnya disebut sebagai Kerinci (“Kurinchai” atau “Kunchai” atau “Kinchai” dalam bahasa setempat), dan penduduknya pun disebut sebagai orang Kerinci. (Sumber; http://ms.wikipedia.org/wiki/Kerinci)

Setelah kita mengetahui tentang asal muasal suku kerinci, di sini kita akan mengkaji ulang tentang perjalanan sejarah sejak tahun 1950 Kehidupan masyarakat Siulak - Kerinci memiliki sebuah tradisi perang, yang dinamakan perang tanah beludai. Tradisi perang ini dilakukan setelah panen padi (padi yang umurnya bias sampai satu tahun untuk panen), hal itu yakini bahwa perang ini akan membawa berkah terhadap hasil panen padi untuk selanjutnya. Tradisi perang ini juga bertujuan olah raga saja.

Perang tanah beludai tidak diperkenankan membawa senjata tajam, seperti golok, pisau dan senjata tumpul lainnya, dalam tradisi perang beludai sangat dijunjung sportifitas, dimana hanya menggunakan tangan kosong untuk melawan dan melindungi diri, serta mengandalkan tenaga sendiri.

Tradisi perang pada awal mula kejadiannya dilakukan oleh sekelompok anak-anak, anak-anak dari desa yang satu dengan yang lain, sehingga perang tanah beludai ini bisa dibilang perang antar desa, antara desa yang satu dengan yang lain. Kemudian para pemuda juga ikut serta, jadi secara lansung tidak lansung perang itu berubah dari perang antara anak-anak, berubah menjadi perang remaja, seringkali orang dewasa ikut dalam perang itu, kemudian dengan ikutnya kaum dewasa maka perang yang awalnya didalam desa berpindah ke luar desa yang dibawa ke tanah beludai.

Perang itu selesai ketika akan masuk waktu Magrib, Setelah masuknya waktu magrib dilakukan mandi bersama di sungai, untuk membersihkan diri, karena perang itu dilakukan dipersawahan yang penuh dengan lumpur. Setelah perang itu selesai, selesailah cerita perang tersebut, dan tidak ada dendam antara yang satu dengan yang lain.

Tradisi perang ini ketika musim menanam padi, tradisi ini bersambung. karena,  Pada saat itu orang-orang sibuk dengan acara menanam padi, tempat perang itu ditanami padi, sehingga perang dihentikan untuk sementara waktu hingga musim panen padi yang selanjutnya.

Tradisi ini sudah menjadi kewajiban setelah panen bagi masyarakat Siulak Mukai, sampai saatnya ditahun 1994 didalam tradisi ini memakan korban jiwa yang bernama Mat Johar, yang mana Mat Johar merupakan salah satu anggota keamanan setempat yang diutus oleh Kodim beserta kaum adat setempat, bekerja sama untuk memberhentikan konflik tradisi dikarenakan tradisi itu sudah mulai memakai senjata, dan juga meresahkan pemerintahan setempat. Namun peleraian yang dilakukan oleh pasukan itu membuat Mat Johar meninggal dunia yaitu pada tanggal 27 April 1994. Setelah meninggalnya Mat Johar,  Konflik itu diselesaikan oleh kodim dan pemerintahan setempat beserta kaum adat, supaya tidak terjadi korban jiwa untuk selanjutnya.

Berakhirnya tradisi tanah berudai juga ada pengaruhnya terhadap kemajuan teknologi dibidang pertanian, bibit unggul (padi BB) yang diberikan kepada masyarakat pada tahun 1994. Bibit padi unggul ini memiliki umur jauh lebih singkat yakni 3 bulan, dibandingkan dengan bibit padi sebelumnya yang berumur sekitar satu tahun, sehingga dengan adanya pembagian bibit unggul kepada masyarakat membuat terjadinya perubahan kebiasaan pada masyarakat.

Perang tanah beludai yang sudah lama dilansungkan ini membawa dampak buruk terhadap kepribadian masyarakat Siulak Mukai, karena susahnya menghilangkan tradisi yang sudah lama terjadi di masyarakat Siulak Mukai yang berawal dari hilangnya tradisi tersebut. (http://yoandapratama.blogspot.com/2013/05/tanah-beludai.html)



Dari dua sumber di atas, penulis mengambil beberapa kesimpulan, bahwa di kerinci dalam hal ini di siulak-siulak mukai;



1.      Budaya Perang sudah ada dari nenek moyang. Hal ini terbukti dari adanya Perang Tanah beludai yang sekarang sudah punah.



2.      Masyarakat yang menjujung tinggi sportifitas, yang terbukti dalam perang tanah beludai, tanpa boleh menggunakan senjata, tanpa menelan korban jiwa, dan setelah perang usai, masyarakat mandi bersama, dan tetap bersahabat, sehingga jika ada sesuatu yang di anggap tidak sportif maka akan terjadi kericuhan.



3.      Masyarakat yang tidak pendendam. Terbukti Setelah perang tanah beludai usai, maka tidak ada dendam antar masyarakat yang ikut berperang, dan kembali hidup rukun dan damai, karena perang ini hanya dijadikan sebagai ajang olah raga. Tapi apabila dalam peperangan tidak sportif tentu akan menjadi dendam yang berkepanjangan.



4.      Rasa primordialisme, yang dalam hal ini diartikan dengan sebuah pandangan atau paham yang memegang teguh hal-hal yang dibawa sejak kecil, baik mengenai tradisi, adat-istiadat, kepercayaan, maupun segala sesuatu yang ada di dalam lingkungan pertamanya.



5.      Kekompakan, hal ini menjadi paradigma umum masyarakat setempat, sehingga jika ada yang tidak kompak maka, ia dipandang sebagai musuh bersama, dan akan diasingkan dari kelompok masyarakat, sehingga dalam adat muncul istilah “Buang Sirih”, yakni di kucilkan dari masyarakat.



6.      Masih membaurnya antara kepercayaan lama, yang dalam hal ini adalah budha dan animism, sehingga islam belum bisa difahami secara utuh, tetapi akulturasi budaya Animism, Buddha dan Islam.



7.      Jika dilihat dari letak Geographies, masyarakat tinggal di daerah pegungan, yang sebenar nya adalah masyarakat yang tentunya akan menjunjung tinggi nilai-nilai budaya, namun jauh sebelum ini, masyarakat sudah dipengaruhi oleh budaya luar, sehingga budaya setempat tidak akan dapat dipertahan kan secara utuh.



Setelah memahami hal ini , barangkali kita akan menemukan penyebab terjadi nya kericuhan akhir-akhir ini, dan kita tidak akan menyalahkan satu pihak tertentu saja, tapi harus objektif dalam menilai.Al-hasil, Kerinci Kembali damai, hidup rukun, dan bersahabat. Dan semoga kita bisa menemukan jalan keluar dari persolan kerinci yang kita hadapi. Wallahu a’lam bissawab[2]







[1]   Penulis : Andi Yalmi, S.PdI
[2]. Penulis adalah Pendiri dan Mantan Ketua Umum Pertama FKMTS – Forum Komunikasi Mahasiswa Tanah Sekudung  (Siulak, Siulak Mukai, Gunung Kerinci, Kayu Aro, Kayu Aro Barat dan Gunung Tujuh)

0 komentar:

Posting Komentar