Home » » “ MELAWAN AWAN DINGIN MENUSUK KULIT” (Oleh : Hidayat, S. Pd)

“ MELAWAN AWAN DINGIN MENUSUK KULIT” (Oleh : Hidayat, S. Pd)

Written By Bang Sarjoni on Rabu, 19 Februari 2014 | 05.40

Dikala “awan dingin menusuk kulit” ini, alrm Hp yang tadi malam aku siapkan untuk bangunpun bebunyi, dengan mata yang betutu sayu dan kepala yang begitu berat, jempol ini dengan sengaja menekan tobol samping kanan paling atas, dan suara itupun hilang tanpa mulcul kembali, dan hatipun berbisak Semua sudah aman, pengenmbaraan didunia mimpipun siap dilanjutkan, antara sadar dan tidak, tersentak terkejut karena dikagetkan dengan sarine panti yang begitu keras dan sangat dekat dengan kamarku, suara itu hanya berlansung beberapa detiak saja, rasa keget tadipun ikut menghilang seiring dengan berhentinya suara sarine tadi, dan penelusuran dunia mimpun semakin rindu untuk dilanjutkan.

Dengan hati yang begitu tenang, selimut tebalpun menyumbangkan kehangatan dalam memberikan semangat untuk melanjutkan tidurku, detik-detik jam mulai sayup-sayup aku dengar, ini petanda aku akan berpindah ke alam bawah sadarku, namun sayup-sayup suara adzan terdengar menyapa ditelinga yang masih dibisikkan oleh godaan setan untuk menambah tidur, dan pintu kaca kamarpun mendapat gedoran dari pengasuh yang selalu perhatian dengan anak asuhnya, ini petanda sholat shubuh mau masuk.

Alhamdulillah telinga ini masih diberikan untuk menikmati rahmat Tuhan, suara pintu kamar tetangga terdengar saat dibukakan, dan hentakan kaki begitu ramai terdengar, ini menandakan semuanya sudah bangun dan berlomba-lomba ingin menunaikan kewajibannya, sementara aku yang lebih tua masih berdiam diri menikmati kehangatan selimut tebalku.

***
Allahuakbar Allahuakbar
Suara ikamahpun telah dikumandangkan oleh muadzim, dengan kepala yang begitu berat, akupun memaksakan diri untuk beranjak ke kamar mandi, aku tunaikan rukun whudu’, dan bergegas menuju suara imam yang sudah mengangkat takbir, sebelum imam selesai membacakan Alafatihan, kamipun terhentak sampai dirumah-Nya, dan dengan rendah hati mengikuti gerakkan sang Imam.

Saat rakaat kedua, tubuh ini terasa berat berdiri, seakan-akan ada badai yang menerpa tubuh ini, bagaikan kapal ditengah lautan yang dihantam badai kencang, tubuh ini terombang-ambing kekiri dan kekanan, namun posisi kaki yang begitu kuat membuat tubuh ini tidah mudah untuk ditumbangkan.

Dengan perjuangan yang begitu berat akhirnya salam kiri dan kananpun ditebarkan, tersentak tubuh ini merasa ringan dan segar, timbul harapan dalam hati, bahwa esok harus lebih baik dari hari ini, ini adalah godaan setan yang terkutuk, namun benar apa tidak terjdi perobahan itu, maka hari esok adalah jawabannya.

Kasus seperti ini tentunya tidak hanya dialami oleh penulis saja, namun ratusan bahkan ribuan orang pernah mengalaminya, dalam hidup ini memang shalat adalah hal yang amat berat untuk ditunaikan, padahal ia hanya membutuhkan lima menit paling lama, yang tentunya tidak sebanding dengan waktu yang kita habiskan dalam waktu sehari semalam.

Ya Allah... Jauhkanlah kami dari rasa malas dan lalai ini, kami takut menjadi hamba-Mu yang tidak mensyukuri nikmat-Mu, Aamiin

Oleh : Hidayat, S. Pd
Santri Panti Asuhan Putra Aisyiyah Sungai Penuh - Kerinci

0 komentar:

Posting Komentar