Home » » KETIKA DUA JADI SATU ( By. Theroe ‘n }{@ )

KETIKA DUA JADI SATU ( By. Theroe ‘n }{@ )

Written By Bang Sarjoni on Rabu, 26 Februari 2014 | 17.34


Ketika mata biru itu tak lagi membiru

Hati tak lagi memerah

Detak jantung

Aliran darah

Desah nafas tak lagi pada yang “ada”

Siapa yang ada?

            Hanya akan ada aku

Yang menari

Diatas puing-puing ingatanmu

Ya

Hanya dirimu

Yang menari diatas ingatan yang tak teringat

Dalam tarian tak bergerak

Dipalung  terdalam bingkai jiwa tak bermaya

            Dan kau

Masih asyik bermain

Dengan berjuta tanya di qalbu

Dengan pertanyaan tanpa tanya

Yang hanya menyiratkan tanya dalam asa yang diwarnai rasa

            Rasa yang kian hilang

Ditelan ketidak puasan

Karna dunia ini hanyalah segenggam pasir

Yang tak berharga

Yang bisa saja di buang ketika dikau tak butuh

            Yang kelak hanya akan tinggalkan

Secuil kenangan

            Obat rindu kala qalbu merindu

Jika itu obat

Tak ada rasa pahit ketika ditelan

Tapi ianya hanya sebuah kematian perlahan

Yang lahir berselimutkan rindu tak menentu

            Kian sakit

Semakin menyesatkan

            Tiada lentera yang mampu memberi terang pada jalanan

Biarlah

Ketersesatan itu datang dalam damai kebenaran

Melalui sisa puing-puing yang berlumuran lumpur najis nan tak berharga

            Kini

            Bahkan kebenaran itu merangkak pergi

Kian jauh

Bahkan semakin jauh pergi

Dan jiwa-jiwa yang meronta atas takdir

Menutup rapat pintu kebenaran

Demi dunia

Disaat itu akhirilah jiwamu atas nama kedamaian

Yang terkubur disudut bumi tandus nan gersang

Yang disana ada kubus hitam yang selalu dipuja

Diagungkan

Dan dimuliakan oleh makhluk-makhluk pilihan

            Ku jemput kau

            Disinggasanamu yang agung

            Ketika diri tak mampu menerima kebenaran

Diatas yang maha benar

            Menyalahkan semua langkah semakin salah

Mampukah dikau

Menjemput diri yang tak punya arti yang berarti

Berlumuran dosa-dosa indah

Yang  telah mematikan rona tak bermakna

            Ku tunggu kau diujung hari

Ketika langit terluka parah

Saat alam melukis mega merah

Dilangit nan megah

Namun

Sanggupkah dikau

Bawa secangkir air nirmala

Sebagai tawar luka terdalam

Yang telah digerogoti belatung-belatung

Serta tinggalkan virus

Yang telah menyiapkan prosesi kematian terindah

            Kan ku jemput air yang kau inginkan

Dari taman syurga firdaus

Demi memberikan damai dijiwa-jiwa sang pecundang

Yang melarikan diri dari panggung sejarah



                                                               By. Theroe ‘n }{@                     


0 komentar:

Posting Komentar