Home » » HANTU SALAI BULUH-TERORISME (By. Irwanto Al-Krienciehie)

HANTU SALAI BULUH-TERORISME (By. Irwanto Al-Krienciehie)

Written By Bang Sarjoni on Kamis, 06 Februari 2014 | 20.06

SULUK PEDUSUNAN 59#
Dulu, masa hamba SD dan SMP pada hari minggu ba'da Subuh, suasana jalan raya di pedusunan Siulak penuh dengan anak2, remaja, dewasa, tua-muda, laki-laki-perempuan melakukan "maraton"; yakni pergi lari pagi dan pulangnya jalan kaki. Pemandangan ini berlanjut dalam beberapa tahun. Namun kini sangat langka tradisi "maraton" dilakukan, mungkin sudah sehat semua.

Mungkin hanya mitologi orang2 pedusunan saja, apabila saat ba'da Subuh dalam pandangan mata lahir saat memandang ke sawah di seberang sungai Batang Marao tampak "sepasukan" seperti membawa "salai buluh" (obor-api) di persawahan hingga sampai ke perbukitan.

Orang tua2 dulu menyebutnya sebagai "antu" (hantu) salai buluh. Waktu SD perasaan takut merajai apabila "maraton" sendiri, sehingga menghindari penglihatan "antu" salai buluh hamba terpaksa memacu lari hingga bisa bersama kawan2 yang lainnya.

Dalam alam "kebatinan" (mistisisme), mungkin saja "sepasukan" hantu salai buluh itu adalah jin yang sedang melakukan "karnaval" dalam jamaah yang bersulam salai buluh. Karena kondisi pedusunan masih asli dan asri.

Dalam kontekstual zaman kini, hantu salai buluh ber-"metamorfosis" menjadi "gerakan" cepat seperti "sepasukan" semut yang hitam, dalam malam yang kelam, dan memberi kesan yang "menantang".

Betapa banyak aparat yang menjadi abdi negara di "habisi" oleh orang yang tak dikenal, puluhan masyarakat menjadi korban aksi "bom" dari manusia2 yang tak bertanggungjawab, dan sangat "murah"nya harga nyawa masyarakat oleh aksi2 terorisme seperti pembakaran.

Hegemoni materi, kursi dan ambisi menyatu dan "merajai" hati amaran dan lawamah, sehingga terjadi klem kebenaran. Prinsip nasabiyah menjadikan manusia2 kehilangan dimensi "cinta-kasih" pada sesama. Dan "syahwat" politik menjadikan kedigdayaan sebagai "inspirasi" pemusnahan, serta "libido" ekonomi menyebabkan dimensi Allah dalam diri dikuasai "gairah" nafsu penindasan.

Begitu jauh hamba2 terperosok dalam jurang, kesadaran ketuhanan adalah muara pertaubatan sejati. Janganlah hamba2 berhenti menjadi manusia yang menghormati kemanusiaan sebagai hamba Allah.

Selamatkanlah makhluk di BUMI, supaya LANGIT melimpahkan kasih sayangNya.

0 komentar:

Posting Komentar